Makarim Minta Akses, Israel Layangkan Surat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang anak Palestina menangis di balik pagar perbatasan Rafah saat berusaha menyebrang ke wilayah Mesir bersama keluarganya di Jalur Gaza, 10 Juli 2014.  Setidaknya 74 warga yang sebagian besar sipil terbunuh dalam serangan udara Israel. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    Seorang anak Palestina menangis di balik pagar perbatasan Rafah saat berusaha menyebrang ke wilayah Mesir bersama keluarganya di Jalur Gaza, 10 Juli 2014. Setidaknya 74 warga yang sebagian besar sipil terbunuh dalam serangan udara Israel. REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebelum memulai bekerja, pelapor khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa ihwal situasi hak asasi manusia dalam konflik Palestina-Israel, Makarim Wibisono, harus memastikan dia mendapat akses masuk dan informasi atau data dari kedua belah pihak yang bertikai.

    Untuk itu, Makarim melayangkan surat resmi kepada Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa Bangsa di Jenewa, Eviatar Manor, pada 9 Juli 2014. Dalam suratnya, Makarim juga menyinggung peristiwa terakhir yang memicu kembali pecahnya konflik di Jalur Gaza yang telah menewaskan lebih dari 100 warga sipil dan melukai 700 warga sipil.

    Pada tanggal yang sama, Makarim juga melayangkan surat yang isinya meminta akses masuk dan informasi kepada Duta Besar Palestina Ibrahim Kharishi, di markas PBB, Jenewa. Palestina berstatus pengamat tetap di PBB.

    "Saya ingin memastikan mereka memberi akses kepada saya dalam menjalankan mandat," kata Makarim Wibisono kepada Tempo di rumahnya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu, 12 Juli 2014. (Baca:Konflik Palestina, Diplomat Makarim Ubah Strategi)

    Respons cepat datang dari Eviatar yang memberikan jawaban keesokan harinya, 10 Juli 2014. Dalam suratnya, Eviatar menjelaskan situasi terakhir konflik dan menyinggung Hamas, faksi di Palestina yang tegas menentang Israel, sebagai pemicu konflik berkepanjangan. "Namun saya belum menerima surat balasan dari Palestina. Saya masih menunggu jawaban mereka," kata Ketua Dewan Sidang HAM PBB 2005 itu. 

    Menurut Makarim, respons cepat Israel merupakan sinyal positif untuk menjalankan mandatnya. Meski begitu, dia harus bekerja keras, mengingat pemimpin Israel saat ini, Benjamin Netanyahu, diketahuinya bersikap keras terhadap Palestina. Dia berbeda dengan pemimpin Israel sebelumnya, Ariel Sharon dan Shimon Perez. (Baca:Militer Israel Minta Warga Gaza Segera Pindah)

    Konflik berdarah selama lebih dari 60 tahun ini, menurut Makarim, tidak akan mudah diselesaikan. Namun pengalamannya selama puluhan tahun di PBB akan membantunya memetakan akar masalah agar konflik bisa diredam. Dia memprioritaskan pendekatan kemanusiaan terhadap kedua belah pihak.

    "Saya meminta mereka menahan diri agar kelompok-kelompok garis keras dari kedua belah pihak tidak mencari kesempatan untuk melakukan tindakan saling serang," kata Makarim. (Baca:Ratusan Warga Inggris Kecam Agresi Israel di Gaza)

    MARIA RITA

    Berita lainnya:
    Cucu Sultan Johor Terseret Kasus Pembunuhan Model 
    Pemimpin ISIS Pakai Arloji Rolex Jadi Perbincangan
     
    Bocah 9 Tahun Polisikan Ortunya yang Jual Ganja Ilegal


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.