Ketika Gadis AS Jatuh Cinta dengan Jihadis ISIS  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Para militan pejuang Islam berparade dengan kendaraan militer di sepanjang jalan provinsi Raqqa utara (30/6). Pejuang Islam militan mengadakan parade di utara provinsi Raqqa Suriah untuk merayakan deklarasi

    Para militan pejuang Islam berparade dengan kendaraan militer di sepanjang jalan provinsi Raqqa utara (30/6). Pejuang Islam militan mengadakan parade di utara provinsi Raqqa Suriah untuk merayakan deklarasi "khalifah" Islam. Negara Islam merupakan cabang Al-Qaeda sebelumnya dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). REUTERS/Stringer

    TEMPO.CO, Colorado - Ungkapan “cinta itu buta” tampaknya berlaku bagi Shannon Maureen Conley, gadis usia 19 tahun asal Denver, Amerika Serikat. Ia berkenalan dengan anggota gerakan Islamic State of Iraq and Syiria secara online, jatuh cinta, lalu berjanji berangkat ke Suriah untuk menyusulnya.

    Dokumen pengadilan federal tertanggal 9 April yang memuat kisah Conley akhirnya diungkap oleh hakim federal Jeff Dorschner kemarin. Conley dituduh berkonspirasi menyediakan material untuk mendukung organisasi yang tergolong teroris.

    Namun, ia ditangkap agen FBI saat akan berangkat dari Bandara Internasional Denver pada 8 April lalu. Ketika itu Conley hendak menuju Frankfurt, Jerman. Rencana perjalanannya lanjut ke Istanbul dan Adana, Turki, yang hanya berjarak beberapa jam dari perbatasan Suriah.

    Conley, yang merupakan perawat bersertifikasi, mengaku pada penyidik bahwa dia berharap bertemu kekasihnya di Suriah dan tinggal dengannya di perbatasan Turki sebagai istri sang jihadis. Orang tua Conley mengatakan jihadis itu pria 32 tahun asal Tunisia. Namun, namanya tak diungkap.

    “Conley mengatakan pada peminangnya bahwa dia ingin menyediakan layanan kesehatan dan pelatihan di kamp jihadis. Kata laki-laki itu bagus karena mereka butuh perawat,” kata surat sumpah yang memuat kesaksian orang tua Conley seperti dirilis ABC News, Rabu, 2 Juli 2014 malam waktu Amerika Serikat.

    Conley sendiri menyatakan dirinya sadar akan risiko keberangkatannya. Oleh karena itu, dia berencana tidak akan kembali lagi ke AS. Ketika ditangkap dan ditahan untuk tidak berangkat, Conley menyebut tidak ada yang bisa mengubah keputusannya. “Saya tahu keadaan bisa berjalan sangat buruk,” katanya.

    Ketika ditanya niatnya bertunangan dengan jihadis, Conley mengatakan, “Jika itu memang benar-benar perlu, maka iya. Saya tidak ingin… tapi saya akan melakukannya.”

    Sebelumnya pada Desember, Conley pernah menjalani pelatihan tentara AS yang disebut United States Army Explorers tentang taktik militer dan tembak-menembak. Dia berniat menggunakan keterampilan itu untuk melatih jihadis Islam tentang taktik militer AS.

    Tadinya Conley ingin bergabung dalam militer AS, tapi mengurungkan niatnya karena merasa tidak akan diterima jika mengenakan hijab. Tingkah Conley mulai menarik perhatian penyidik ketika bertindak mencurigakan di Kapel Faith Bible yang pernah menjadi lokasi penembakan pada 2007. Ia juga pernah menyatakan dukungannya untuk ISIS.

    ABC NEWS | ATMI PERTIWI

    Berita Lainnya:

    Model Playboy Asal Malaysia Akhirnya Berhijab
    Diskriminasi, Muslim di Xinjiang Dilarang Berpuasa
    Pemakaman Pemuda Israel Dihadiri Ribuan Pelayat


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Skuter Listrik Pasca Insiden GrabWheels Belum Ada Rujukan

    Pemerintah Provinsi DKI berencana mengeluarkan aturan soal skuter listrik setelah insiden dua pengguna layanan GrabWheels tewas tertabrak.