Presiden Brasil: Piala Dunia Membuat Kita Bersatu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Brazil, Dilma Rousseff. REUTERS/Francois Lenoir

    Presiden Brazil, Dilma Rousseff. REUTERS/Francois Lenoir

    TEMPO.CO, Brasilia - Ajang Piala Dunia memang bisa membuat semua orang menjadi satu. Hal inilah yang dilihat oleh Presiden Brasil Dilma Rousseff. Lewat akun Twitter-nya, Rousseff berjanji akan terus mendukung timnas Brasil dalam menghadapi Kolombia pada babak perempat final Jumat nanti.

    "Ini saatnya untuk bersatu bersama dengan timnas kita. Go Brazil!" kicau Rousseff, seperti dilaporkan Reuters, Selasa, 1 Juli 2014.

    Lewat akun di media sosialnya itu, Rousseff juga memiliki keyakinan yang kuat bahwa pelatih Brasil Luiz Felipe dan wakilnya Carlos Alberto serta semua pemain dapat melaju hingga akhir pertandingan. (Baca: Presiden Brasil: Hinaan Tidak Akan Melemahkan Saya)

    Reuters menulis ketelibatan Rousseff dalam ajang Piala Dunia ini akan berpengaruh pada pemilihan presiden bulan Oktober nanti. Jika Brasil menang, elektabilitas serta kepercayaan masyarakat pada dirinya akan semakin kuat.

    Rousseff mengklaim bahwa dirinya berhasil menggelar Piala Dunia dengan sukses sejauh ini, meski banyak kritik seiring dengan proses berjalannya acara. Belum lagi sejumlah orang juga meramalkan bahwa acara sepak bola bergengsi ini akan berubah menjadi bencana. (Baca: Presiden Brasil: Kami Siap Hadapi Piala Dunia)

    "Saya mendengar dan menghormati pendapat-pendapat tersebut (penolakan Piala Dunia), tapi saya tidak setuju dengan mereka. Ini adalah dilema yang keliru. Pesimisme telah dikalahkan oleh tekad rakyat Brasil,” katanya dalam sebuah pidato yang disiarkan di televisi Brasil.

    RINDU P. HESTYA | REUTERS

    Berita Lain:
    Punya Ladang Minyak, Aset ISIS US$ 2 Miliar
    AS Telah Kirimkan 800 Tentara untuk Lawan ISIL
    Pejihad ISIS Berasal dari Berbagai Negara


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Donald Trump dan Para Presiden AS yang Menghadapi Pemakzulan

    Donald Trump menghadapi pemakzulan pada September 2019. Hanya terjadi dua pemakzulan terhadap presiden AS, dua lainnya hanya menghadapi ancaman.