ISIS Lebarkan Sayap ke Lebanon

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Militan pejuang Islam berparade dengan tank di sepanjang jalan provinsi Raqqa utara (30/6). Pejuang Islam militan mengadakan parade di utara provinsi Raqqa Suriah untuk merayakan deklarasi

    Militan pejuang Islam berparade dengan tank di sepanjang jalan provinsi Raqqa utara (30/6). Pejuang Islam militan mengadakan parade di utara provinsi Raqqa Suriah untuk merayakan deklarasi "khalifah" Islam. Negara Islam merupakan cabang Al-Qaeda sebelumnya dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). REUTERS/Stringer

    TEMPO.COBagdad – Kelompok militan Negara Islam Irak dan Levant (ISIL) atau yang juga dikenal sebagai Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) rupanya mulai melebarkan sayap ke wilayah Lebanon. Kelompok ini telah menunjuk seorang emir–gelar bangsawan tinggi/pemimpin, untuk menjadi wakil ISIS di Lebanon.

    Dikutip dari laman Mehr News, Senin, 30 Juni 2014, ISIS menunjuk Abdul Salam al-Ordoni sebagai emir atau pemimpin ISIS di Lebanon. Emir ini bahkan disebut berada di balik ledakan yang dilakukan oleh dua orang asal Arab Saudi di hotel Beirut pekan lalu.

    Tak sampai di situ, televisi lokal Lebanon juga menyebut bahwa ISIS telah mendirikan sebuah kamp untuk melatih pengebom yang akan melakukan serangan teroris di Lebanon. (Baca: Pejihad ISIS Berasal dari Berbagai Negara)

    Kabar ini muncul selang beberapa hari setelah ISIS mendeklarasikan berdirinya Negara Islam di wilayah Irak dan Suriah. Sejumlah daerah di Irak telah jatuh di bawah kendali ISIS sejak serangan pada Januari tahun ini. Dari situ, rupanya ISIS terus melebarkan sayap, hingga ke Lebanon. (Baca: ISIS Mendeklarasikan Negara Islam)

    ANINGTIAS JATMIKA | MEHR NEWS

    Terpopuler
    Punya Ladang Minyak, Aset ISIS US$ 2 Miliar 
    Pejihad ISIS Berasal dari Berbagai Negara
    Misi Berbelok, ISIS Tak Akur dengan Al-Qaidah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.