Tolak Lamaran, Gadis Pakistan Dibakar Hidup-hidup  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Reaksi seorang siswa ketika memperhatikan guru yang menampilkan ilustrasi yang menggambarkan seorang siswa dianiaya oleh seorang guru, dan menjelaskan langkah-langkah ketika terjadi pelecehan seksual, di Shadabad Sekolah Dasar Perempuan di desa Gohram Panhwar di Johi Pakistan (12/2). Pendidikan seks adalah umum di sekolah-sekolah Barat tetapi pelajaran terobosan ini sedang berlangsung di pedesaan sangat konservatif Pakistan, sebuah negara Muslim dari 180 juta orang.  REUTERS/Akhtar Soomro

    Reaksi seorang siswa ketika memperhatikan guru yang menampilkan ilustrasi yang menggambarkan seorang siswa dianiaya oleh seorang guru, dan menjelaskan langkah-langkah ketika terjadi pelecehan seksual, di Shadabad Sekolah Dasar Perempuan di desa Gohram Panhwar di Johi Pakistan (12/2). Pendidikan seks adalah umum di sekolah-sekolah Barat tetapi pelajaran terobosan ini sedang berlangsung di pedesaan sangat konservatif Pakistan, sebuah negara Muslim dari 180 juta orang. REUTERS/Akhtar Soomro

    TEMPO.CO, Punjab - Seorang gadis remaja Pakistan tewas setelah disiram bensin dan dibakar oleh seorang pria yang ingin menikahinya. Si gadis menolak lamaran pria itu. Menurut polisi, kejadian ini adalah pembunuhan brutal kedua di Provinsi Punjab dalam beberapa hari ini. Sebelumnya, seorang gadis 17 tahun dan suaminya dibunuh oleh sekelompok kerabat karena menikah tanpa restu.

    Insiden terakhir terjadi hari Sabtu di sebuah desa yang merupakan bagian dari Kota Toba Tek Singh. Sidra Shaukat, 18 tahun, berada di rumah tanpa orang tuanya ketika Fayyaz Aslam, 22 tahun, memasuki rumahnya, lalu menyiramnya dengan bensin dan membakarnya.

    "Dia dibawa ke rumah sakit setempat dan dirujuk ke rumah sakit utama, tetapi dia meninggal dalam perjalanan," kata Mohammad Akram, pejabat Kepolisian Punjab.

    Aslam telah ditangkap dan kini meringkuk di penjara. "Anak itu mencintainya dan juga telah mengirimkan lamaran untuk menikahinya, tapi ditolak oleh keluarganya," kata Akram.

    Ayah Sidra, Shaukat Ali, membenarkan pembunuhan itu dan menuduh Aslam melecehkan putrinya. "Pada sore hari sebelumnya dia datang dan mengancam kami. Saat itu kami melarangnya untuk datang lagi," katanya.

    Sebelumnya, remaja lain, Maafia Bibi, 17 tahun, dan suaminya, Muhammad Sajjad, 31 tahun, dibunuh oleh ayah Bibi, dua pamannya, kakek, dan ibunya pada Kamis malam karena menikah tanpa restu.

    Di beberapa wilayah di Pakistan, membunuh seorang wanita yang perilakunya dianggap tidak sopan dan tidak bisa diterima secara luas adalah hal biasa. Bernyanyi, melihat ke luar jendela, dan berbicara dengan seorang pria dianggap sebagai perilaku yang tidak sopan bagi wanita Pakistan dan telah memicu pembunuhan.

    Komisi Hak Asasi Manusia Pakistan mencatat pada tahun lalu ada 869 pembunuhan yang terjadi karena alasan kehormatan. Namun kenyataannya, angka ini masih bisa lebih tinggi karena banyak kasus yang tidak dilaporkan.

    AP | INDAH P


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.