Protes Kebijakan, Pria Jepang Bakar Diri  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aksi bakar diri pria Tibet memprotes kekuasaan Cina atas wilayah mereka.

    Aksi bakar diri pria Tibet memprotes kekuasaan Cina atas wilayah mereka.

    TEMPO.CO, Tokyo - Seorang pria membakar dirinya sendiri di persimpangan jalan yang sibuk di Kota Tokyo, Jepang, pada Ahad, 29 Juni 2014. Menurut keterangan polisi, aksi ini dilakukan sebagai protes terhadap Perdana Menteri Shinzo Abe yang akan memudahkan batas konstitusi negara.

    Menurut laporan Xinhua, upaya bunuh diri ini dilakukan di jembatan penyeberangan Nishi-Shinjuku di ibu kota Tokyo sekitar pukul 14.00 waktu setempat. Sebelumnya, menurut keterangan saksi mata, pria yang tidak disebutkan namanya ini melakukan protes secara damai. Ia duduk bersila di tengah jalan dan mulai berorasi.

    "Dia duduk bersila dan hanya berpidato. Jadi, saya pikir itu akan berakhir tanpa insiden. Selang 30 menit saya lewat tempat itu lagi, ia masih ada. Tapi kemudian tiba-tiba seluruh tubuhnya diselimuti api," kata seorang saksi mata, Ryuichiro Nakatsu, kepada Reuters, Ahad, 29 Juni 2014.

    Insiden ini terjadi setelah pada Jumat, 27 Juni 2014, pemerintah Jepang menyerahkan versi final dari resolusi mengenai hak pertahanan untuk koalisi yang berkuasa. PM Shinzo Abe berencana akan menyetujuinya pada 1 Juli mendatang.

    Hak pertahanan diri ini memungkinkan Pasukan Bela Diri Jepang (SDF) terlibat dalam pertempuran di luar negeri. Padahal, menurut konstitusi, SDF dilarang untuk berperang atas nama selain Jepang.

    Akibat insiden ini, pria tersebut mengalami luka serius dan masih dalam perawatan di rumah sakit.

    ANINGTIAS JATMIKA | XINHUA | REUTERS


    Berita Lain
    Membelot, Bupati Sutedjo Diminta Keluar dari PDIP

    Wanita Australia Tewas Kesetrum Laptop

    MU Resmi Lepas Buttner ke Dynamo Moscow


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?