Jaksa: Perberat Hukuman bagi Mata-mata Rusia!  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Belanda Mark Rutte saat berpidato di konferensi pers jelang KTT Keamanan Nuklir ke-3 di Den Haag, Belanda (23/3).   REUTERS/Yves Herman

    Perdana Menteri Belanda Mark Rutte saat berpidato di konferensi pers jelang KTT Keamanan Nuklir ke-3 di Den Haag, Belanda (23/3). REUTERS/Yves Herman

    TEMPO.CO, Amsterdam - Seorang pegawai negeri Belanda diadili karena menjadi mata-mata untuk badan intelijen Rusia. Menurut jaksa, seperti dimuat Reuters pada 27 Juni 2014, pegawai itu mendapat bayaran lebih dari 72.200 euro karena menjadi mata-mata untuk Rusia selama lebih dari dua tahun dan menyerahkan bahan intelijen dalam pertemuan bulanan dengan pengendali Rusia-nya.

    Jaksa tak menyebutkan nama pegawai yang jadi mata-mata Rusia itu. Jaksa mengatakan pegawai tersebut memberikan informasi politik dan militer yang sensitif soal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) dan Uni Eropa kepada pengendali Rusianya.

    Pria tersebut sudah divonis bersalah karena melanggar Undang-Undang Rahasia Negara, melakukan korupsi dan pencucian uang. Dia dijatuhi hukuman 12 tahun penjara. Namun, jaksa menuntut agar dinaikkan menjadi 15 tahun mengingat besarnya kejahatan yang dilakukannya. 

    Pria itu tinggal di Den Haag dan bekerja di Departemen Urusan Visa Kementerian Luar Negeri Belanda. Saat beroperasi sebagai mata-mata Rusia, ia memiliki nama sandi "BR". Pengadilan juga telah memerintahkan bahwa uang yang ia terima dari Rusia itu disita. 

    "Tersangka mengkhianati negaranya untuk keuntungan finansial," kata kantor Kejaksaan dalam sebuah pernyataan.  "Dia menjual materi intelijen untuk Federasi Rusia dalam jangka panjang... hukuman penjara panjang adalah hukuman yang sesuai." 

    Aksi mata-mata ini terungkap setelah polisi Jerman menangkap pengendali Rusianya di Kota Jerman, Marburg, tahun 2011. Sedangkan pegawai di Kementerian Luar Negeri Belanda itu ditangkap di Bandara Schiphol Amsterdam tak lama setelah ia bersiap-siap pergi untuk perjalanan bisnis. 

    Pengendali Rusianya, perempuan, tertangkap basah. Saat polisi menyerbu masuk ke rumahnya, mereka mendapati pemancar gelombang pendek yang terhubung ke laptop saat ia menerima instruksi dari Moskow, kata kantor Kejaksaan Belanda.  

    Reuters | Abdul Manan

    Berita Lainnya
    Artis Nigeria Tawarkan Diri Demi Korban Boko Haram
    PM Jepang Perintahkan Perempuan 'Mati'
    Dilegalkan, Penggunaan Ganja AS Meningkat
    Obama Ikut Nonton Piala Dunia AS Vs Jerman
    MH370 Disebut Terbang Otomatis Saat Jatuh


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Yang Datang ke Istana, Ada Nadiem Makarim dan Tito Karnavian

    Seusai pelantikannya, Presiden Joko Widodo memanggil sejumlah nama ke Istana Negara, Senin, 21 Oktober 2019. Salah satunya, Tito Karnavian.