Tiga Juta Balita Meninggal Akibat Kurang Gizi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Bayi Gizi Buruk. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

    Ilustrasi Bayi Gizi Buruk. ANTARA FOTO/Basri Marzuki

    TEMPO.CO, Roma - Lembaga Program Pangan Dunia (WFP) dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan lebih dari tiga juta anak balita (di bawah usia 5 tahun) meninggal akibat kekurangan gizi setiap tahunnya.

    “Malnutrisi menjadi penyebab sekitar setengah dari semua kematian anak balita, dan menyebabkan lebih dari tiga juta kematian setiap tahun,” kata Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), seperti dilansir Asiaone, Jumat, 13 Juni 2014.

    Sebanyak 162 juta anak-anak mengalami perlambatan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis dan 99 juta anak di seluruh dunia kekurangan berat badan. (Baca: Kenali Tiga Masalah Gizi Buruk pada Anak)

    Sejak konferensi internasional pertama tentang gizi pada 1992, telah terlihat kemajuan penting dalam perang melawan kelaparan dan kekurangan gizi. “Namun kemajuan ini tidaklah cukup dan tidak merata,” kata Kepala FAO Jose Graziano da Silva.

    Kasus kekurangan gizi hanya turun 17 persen sejak awal 1990-an, dan masih menyisakan 840 juta masyarakat dalam kondisi kekurangan gizi kronis.

    FAO dan WHO mendesak pemerintah di seluruh negara agar berkomitmen kuat untuk memastikan diet sehat pada warganya. Imbauan ini akan dipertegas kembali pada konferensi international tentang gizi yang akan berlangsung di Roma, November mendatang. (Baca: PBB: Junk Food Sama Bahayanya dengan Merokok)

    “Sekitar 160 juta anak balita mengalami perlambatan pertumbuhan atau kekurangan gizi kronis. Dan lebih dari dua miliar orang menderita kekurangan gizi dan kekurangan vitamin. Sedangkan hampir setengah miliar orang mengalami obesitas,” ujarnya.

    Direktur Jenderal WHO Margaret Chan menuturkan tujuan konferensi mendatang adalah untuk mengingatkan sebuah pertanyaan kepada pemerintah, “Mengapa orang-orang yang kekurangan gizi bisa hidup berdampingan dengan penderita obesitas di negara yang sama dan komunitas yang sama?”

    Dia juga mengingatkan lebih banyak penelitian tentang kesehatan dan lingkungan menunjukkan implikasi bahwa peningkatan permintaan akan daging dan produk hewani ternyata berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan.

    Menurut dia, upaya meningkatkan ketahanan pangan dan gizi kadang terhambat oleh rendahnya komitmen politik dan lemahnya pengaturan kelembagaan.

    ASIAONE | ROSALINA

    Berita Lainnya
    Sekab: JK Minta Rumah di Brawijaya ke SBY
    Petir Bubarkan Pidato Pengukuhan Guru Besar SBY
    JK Minta Rumah, Sudi Silalahi Tak Tahu Batas Harga  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.