Operasi Militer di Bandara Karachi, 24 Tewas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasukan Komando Pakistan memasuki terminal Bandara Internasional Jinnah, Karachi, 8 Juni 2014. Sekelompok pria bersenjata berat menembaki calon penumpang di bandara tersebut. AP/Shakil Adil

    Pasukan Komando Pakistan memasuki terminal Bandara Internasional Jinnah, Karachi, 8 Juni 2014. Sekelompok pria bersenjata berat menembaki calon penumpang di bandara tersebut. AP/Shakil Adil

    TEMPO.CO, Karachi - Pasukan keamanan Pakistan melancarkan kembali operasi militer di bandara Karachi, Senin, 9 Juni 2014. Menurut laporan kantor berita Agence France-Presse setelah mengutip keterangan pasukan paramiliter, adu senjata antara pasukan keamanan dan militan yang menguasai bandara menyebabkan 24 orang tewas.

    "Kami melancarkan operasi militer lagi dan mengirimkan pasukan tambahan," kata Sibtain Rizvi, juru bicara pasukan paramiliter Rangers. Dia menambahkan, dalam serangan tersebut seorang pejabat kepolisian cedera.

    Wartawan AFP yang berada di tempat kejadian mengatakan adu tembak kedua belah pihak, antara pasukan keamanan dan pemberontak dapat terdengar di dalam ruangan bandara, saat pasukan elite Rangers merangsek masuk.

    Penyerbuan terhadap bandara Jinnah International Airport itu berlangsung pada Ahad dinihari waktu setempat, 8 Juni 2014, hingga fajar menyingsing. Menurut petugas keamanan, dalam serangan tersebut sepuluh militan tewas ditembak.

    Dalam serangan paling berani di kota terbesar di Pakistan tersebut, pemberontak membawa rompi bom bunuh diri, granat, dan peluncur roket. Di antara 14 korban terdiri dari petugas keamanan dan empat karyawan bandara.

    AL ARABIA | CHOIRUL

    Terpopuler
    Warga Heboh Saksikan Meteor di Langit Jabodetabek
    Nurul: Keaslian Dokumen Pemecatan Prabowo Diragukan
    Lukisan Buaya Djoko Pekik Dibanderol Rp 6 Miliar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.