Presiden RI dan PM Australia Bertemu di Batam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

    Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. (AP Photo/Achmad Ibrahim)

    TEMPO.CO, Sydney – Batam tampaknya akan kembali menjadi saksi mesranya hubungan Indonesia-Australia. Perdana Menteri Australia Tony Abbott akan menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Batam, Kepulauan Riau, Rabu, 4 Juni 2014. (Baca: Indonesia-Australia Diharapkan Akur pada Agustus)

    Pertemuan pertama antara Abbott dan SBY pasca-kasus penyadapan terhadap sejumlah pejabat tinggi Indonesia, termasuk Presiden dan Ibu Negara itu mengisyaratkan pemulihan hubungan kedua negara.

    “Menindaklanjuti pembicaraan sangat bersahabat bulan lalu, Perdana Menteri akan menghabiskan waktu dengan Presiden Yudhoyono dan meneruskan kemajuan yang telah dicapai untuk menyelesaikan masalah dan memperkuat hubungan bilateral,” kata juru bicara kantor Perdana Menteri Australia, hari ini.

    Abbott mampir ke Batam dalam perjalanan untuk menghadiri peringatan 70 tahun pendaratan Normandia (D-Day) di Prancis.

    Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa memastikan rencana pertemuan itu. “Pertemuan itu akan memberi kesempatan bagi kedua pemimpin untuk mengkaji status hubungan saat ini,” kata Natalegawa kepada wartawan. “Bola ada di pihak Australia untuk menjelaskan masalah penyadapan dan pencari suaka.” (Baca: Hubungan Indonesia-Australia seperti Ganti Oli)

    Pasca-kasus penyadapan, Presiden SBY menetapkan enam langkah sebelum memulihkan hubungan. Antara lain dengan menciptakan kode etik hubungan. (Baca: 6 Respons SBY terhadap Surat Balasan Abbott)

    Setelah kode etik ditandatangani kedua pihak dan Indonesia yakin serta kembali percaya pada Australia, barulah kerja sama militer dan kepolisian dalam mencegah pencari suaka ke Australia akan dipulihkan.

    Hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa kode etik yang sudah disampaikan Indonesia akan disetujui Australia. (Baca: Arogansi Australia Dinilai Perkeruh Suasana)

    Pengamat internasional sekaligus guru besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Hikmahanto Juwana, menyatakan Presiden SBY harus memastikan Australia tidak lagi mengusir para pencari suaka ke wilayah Indonesia sebelum memulihkan hubungan. Indonesia juga harus yakin Australia tidak lagi diam-diam memata-matai Indonesia.

    Batam pernah menjadi tempat pertemuan pertama Presiden SBY dengan Perdana Menteri Australia John Howard pascapemberian suaka pada 42 warga Papua oleh Canberra. Pemulihan hubungan di Nongsa Point Marina, 26 Juni 2006, kemudian berlanjut dengan penguatan hubungan melalui Traktat Lombok, 13 November 2006.

    CHANNEL NEWS ASIA | REUTERS | NATALIA SANTI

    Terpopuler
    Kasus Haji, PPATK: Rekening Anggito Mencurigakan
    Dibidik Tersangka, Anggito Kembalikan Uang ke KPK?
    Diduga Mencurigakan, Ini Isi 14 Rekening Anggito
    116 Pegawai Kementerian Agama Masuk Daftar Hitam


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.