Cegah Kasus MH370, Pesawat Akan Dilacak Real-Time  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang awak Royal New Zealand Air Force (RNZAF) P3 Orion mengamati layar saat mengikuti proses pencarian MH370 di Samudra Hindia (4/4). REUTERS/Nick Perry/Pool

    Seorang awak Royal New Zealand Air Force (RNZAF) P3 Orion mengamati layar saat mengikuti proses pencarian MH370 di Samudra Hindia (4/4). REUTERS/Nick Perry/Pool

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur – Perdana Menteri Malaysia Najib Razak mendesak regulator penerbangan internasional untuk melakukan pelacakan real-time terhadap setiap pesawat guna mencegah terulangnya insiden hilangnya Malaysia Airlines MH370.

    Seperti diberitakan Channel News Asia, dalam artikel di Wall Street Journal edisi Rabu, 14 Mei 2014, Najib mengakui bahwa pemerintah Malaysia lambat melakukan upaya pencarian dan penyelamatan pada jam-jam awal hilangnya pesawat tujuan Beijing dari Kuala Lumpur tersebut. Ia menyadari bahwa itu adalah kesalahan fatal. (Baca: 4 jam Hilang, Malaysia Baru Mencari MH370)

    Namun ia berharap dan menyerukan perubahan agar hal serupa tak terjadi lagi. Najib berharap ada sistem atau regulasi yang memungkinkan pesawat lebih mudah ditemukan dan terlacak. Sebuah teknologi yang membuat sistem komunikasi tidak bisa dimatikan secara manual.

    “Pada zaman smartphone dan mobile Internet, pelacakan secara real-time sudah agak terlambat,” kata Najib. "Sangat membingungkan, bagaimana bisa benda sebesar Boeing 777 menghilang tanpa jejak."

    Hingga kini 239 orang dalam penerbangan MH370 tidak diketahui nasibnya. Sejumlah spekulasi bermunculan, mulai hancur berkeping-keping hingga pembajakan. Dugaan pembajakan mencuat setelah pesawat diketahui mengubah rute dan mematikan sistem komunikasinya.

    Atas dasar itulah The International Civil Aviation Organization (ICAO) mengadakan pertemuan khusus pada awal pekan ini di Montreal untuk membahas seruan penerapan pelacakan real-time pesawat dari satelit, kotak hitam, dan inovasi lain. (Baca: Kasus MH370, Eropa Usulan Aturan Kotak Hitam)

    Menurut laporan CNN, sebanyak 40 negara telah sepakat membentuk pelacakan maskapai penerbangan secara global pada Selasa, 13 Mei 2014. Kerangka kerja telah dibuat ICAO, dan rencananya, implementasi itu akan dibentuk pada September mendatang.

    ANINGTIAS JATMIKA | CHANNEL NEWS ASIA | CNN

    Terpopuler

    Rekrut Pengawal Rupawan, Tren Baru Orang Cina 
    Di Facebook, Perempuan Iran Kampanye Bebas Jilbab
    Separatis Ukraina Ingin Gabung dengan Rusia



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.