Satu Penyelam Tewas Saat Cari Korban Feri Sewol  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penyelam bersiap melakukan penyelaman saat akan mencari korban tenggelamnya kapal feri Sewol di lepas pantai Jindo (22/4). REUTERS/South Korean Navy/Yonhap

    Sejumlah penyelam bersiap melakukan penyelaman saat akan mencari korban tenggelamnya kapal feri Sewol di lepas pantai Jindo (22/4). REUTERS/South Korean Navy/Yonhap

    TEMPO.CO, Incheon - Seorang penyelam yang mencari korban feri Sewol di Korea Selatan dilaporkan meninggal. Penyelam yang merupakan warga sipil ini kehilangan kesadaran saat melakukan operasi pencarian di bawah air. Menurut dugaan, ia tewas ketika sedang memberbaiki tali pedoman di dek kelima feri Sewol.

    "Seorang penyelam sipil bermarga Lee telah hilang dari jaringan komunikasi pada kedalaman 25 meter, lima menit setelah penyelaman pertama," kata juru bicara Satuan Tugas Darurat Pemerintah, Ko Myung-seok, seperti dilaporkan Mirror.co.uk, Selasa, 6 Mei 2014.

    Ko menjelaskan, saat rekan-rekannya bergegas meyelamatkan Lee, ia tidak sadarkan diri. Bahkan, saat diangkat ke permukaan, Lee sudah tidak bernapas. Kematian Lee kemudian dikonfirmasi oleh pihak rumah sakit.

    Pencarian dan operasi penyelamatan korban feri Sewol yang tenggelam di Perairan Jindo, Incheon, Provinsi Joella, Korea Selatan, menjadi proses yang melelahkan. Sebelumnya, para penyelam juga dilaporkan kelelahan dan mengalami dekompresi karena terlalu lama menyelam di air yang dingin.

    Sementara itu, proses pencarian terus dilakukan untuk menemukan 39 orang lainnya yang masih hilang. Laporan terakhir mencatat 263 dari 476 penumpang tewas dan hanya 174 orang yang selamat, termasuk awak feri Sewol.


    RINDU P. HESTYA | MIRROR.CO.UK

    Berita Lain:
    Brunei Terapkan Syariat, Selebritas Dunia Protes
    Kenapa Jumlah Anak-anak di Jepang Menurun?
    Wartawan Tempo Terima Beasiswa Nieman Foundation



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.