Separatis Rusia Sandera 13 Pengamat Keamanan Eropa  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktivis bersenjata pro-Rusia berpose setelah mereka menduduki kantor polisi di Slovyansk, timur Ukraina (12/4). Menteri dalam negeri Ukraina mengatakan seorang petugas keamanan telah tewas dan lima lainnya terluka dalam baku tembak dengan milisi pro-Rusia. AP/Maxim Dondyuk, Russian Reporter magazine

    Aktivis bersenjata pro-Rusia berpose setelah mereka menduduki kantor polisi di Slovyansk, timur Ukraina (12/4). Menteri dalam negeri Ukraina mengatakan seorang petugas keamanan telah tewas dan lima lainnya terluka dalam baku tembak dengan milisi pro-Rusia. AP/Maxim Dondyuk, Russian Reporter magazine

    TEMPO.CO, Slovyansk - Separatis bersenjata pendukung Rusia menyandera 13 pengamat dari Eropa, termasuk lima aparat militer Ukraina, di satu kota di wilayah timur Ukraina. Milisi menuding mereka sebagai pejabat Pakta Pertahanan Atlantik Utara dan mata-mata yang secara ilegal memasuki wilayah kekuasaan milisi itu tanpa izin.

    Usaha membebaskan para pengamat ditolak oleh milisi. Sebaliknya, mereka mengajukan pertukaran sandera dengan persenjataan dan uang. Seorang pemimpin kelompok separatis bernama Vyacheslav Ponomaryov mengatakan para pengamat itu merupakan anggota tim Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE), yang beranggotakan Jerman, Polandia, Denmark, Republik Czeh, dan Swedia. (Baca: Jiwa Terancam, Jurnalis Rusia Adukan Ukraina ke PBB)

    OSCE, ujar dia, mewakili negara-negara pemasok senjata dan uang bagi pemerintahan Ukraina di bawah kendali Kiev yang tidak mereka akui. "Kami mau menukar mereka untuk menentang junta fasis di Kiev," kata Vyacheslav kepada The Times, Sabtu, 26 April 2014. (Baca: Ukraina Menuduh Rusia Kobarkan Perang Dunia III)

    Presiden Ukraina yang baru terpilih, Oleksandr Turchynov, di laman situs  parlemen negara itu, Sabtu, 26 April 2014, mengatakan 13 anggota tim OSCE, termasuk lima aparat militer Ukraina, yang diculik separatis itu tidak akan dilepaskan sebelum ada perintah langsung dari Kremlin, kantor pemerintahan Presiden Rusia Vladimir Putin. "Kremlin yang mengkoordinasi dan memberikan dukungan terbuka kepada teroris bersenjata yang menguasai gedung pemerintahan, menyandera, membunuh, dan menyiksa orang-orang," kata Oleksandr. (Baca: Rusia Tuduh Barat Ada di Balik Jatuhnya Presiden Ukraina)

    LA TIMES | MARIA RITA HASUGIAN  

    Terpopuler:
    Paus Yohanes Paulus II dan Paus Yohanes Jadi Santo
    Kebakaran Hanguskan 500 Rumah di India
    Jiwa Terancam, Jurnalis Rusia Adukan Ukraina ke PBB


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Industri Permainan Digital E-Sport Makin Menggiurkan

    E-Sport mulai beberapa tahun kemarin sudah masuk dalam kategori olahraga yang dipertandingkan secara luas.