Jiwa Terancam, Jurnalis Rusia Adukan Ukraina ke PBB

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah aparat kepolisian berjaga di dekat markas terbaru aktivis asal Ukraina saat di resmikan di Clichy, Paris, Perancis, (20/4). (Photo credit should read THOMAS SAMSON/AFP/Getty Images)

    Sejumlah aparat kepolisian berjaga di dekat markas terbaru aktivis asal Ukraina saat di resmikan di Clichy, Paris, Perancis, (20/4). (Photo credit should read THOMAS SAMSON/AFP/Getty Images)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah media Rusia mendesak lembaga-lembaga internasional untuk melindungi hak dan harkat hidup para jurnalis yang meliputi krisis di Ukraina. Otoritas Ukraina dituding telah melakukan serangkaian serangan dan intimidasi kepada jurnalis-jurnalis dari Rusia.

    "Orang-orang Ukraina di Donetsk, Lugansk, Kharkov, Dnepropetrovsk, dan daerah lainnya merupakan saksi tekanan kekerasan atas kemerdekaan sipil sebagai kebutuhan mendasar. Nyawa jurnalis terancam jika mereka terus membuat laporan dari Ukraina," ujar para jurnalis itu melalui pernyataan tertulisnya kepada Perserikatan Bangsa-Bangsa, Badan PBB Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (UNESCO), dan Organization for Security and Co-operation in Europe (OSCE), Rabu, 26 April 2014.

    Perwakilan media yang menandatangani pernyataan itu adalah semua pemimpin redaksi televisi pemerintah Rusia, radio (VGTRK), NTV REN TV, Channel 5, Russia Today, dan News Media. (Baca: Jet Tempur Rusia Gempur Perbatasan Ukraina)

    "Pejabat otoritas Ukraina yang baru telah melakukan tindakan ilegal berulang kali terhadap jurnalis-jurnalis yang meliput krisis di Ukraina secara profesional dengan melakukan tindak kekerasan terhadap harkat manusia," demikian pernyataan itu.

    Sebelum pernyataan ini dibuat, anggota Badan Keamanan Rahasia Ukraina (Ukraine Security Service) telah menahan dua jurnalis dari media Lifenews. Mereka kemudian dideportasi ke Rusia. Kedua jurnalis itu diculik oleh anggota Badan Keamanan Rahasia Ukraina setelah membuat film dan mewawancarai seorang pemimpin gerakan profederalisasi di Ukraina. (Baca: Ukraina Menuduh Rusia Kobarkan Perang Dunia III)

    "Jurnalis dikuntit, pembicaraan telepon mereka disadap. Banyak kasus mengenai jurnalis dipaksa berlutut, dipukuli selama ditahan, dan dideportase secara melawan hukum dari Ukraina," ujar jurnalis itu membacakan pernyataannya.

    Ukraina, ujar para jurnalis, merupakan anggota Majelis Parlemen Dewan Eropa yang harus tunduk dan mematuhi Deklarasi Media Komunikasi Massa dan hak asasi manusia. Otoritas Ukraina semestinya memberikan informasi untuk kepentingan publik dan media bertugas untuk menyampaikan informasi secara lengkap kepada publik. (Baca: 600 Tentara AS Tiba di Eropa Timur)

    Berdasarkan laporan Komite Perlindungan Jurnalis (CPJ) tahun lalu, ada 139 kekerasan yang dialami oleh jurnalis dan 51 kasus serangan terhadap media. Serangan terhadap pers semakin intensif setelah peristiwa kudeta pada Februari lalu. 

    RUSSIA TODAY | MARIA RITA HASUGIAN 

    Terpopuler:
    Dua Jasad Korban Feri Sewol Terikat Satu Pelampung 
    Ekuador Usir Staf Militer Kedutaan Besar AS
    Kerabat Penumpang MH370 Mengamuk Lagi  



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Palapa Ring Akan Rampung Setelah 14 Tahun

    Dicetuskan pada 2005, pembangunan serat optik Palapa Ring baru dimulai pada 2016.