Tokoh Gerakan Demokrasi Myanmar, Win Tin, Meninggal

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Win Tin. (blogs.afp.com)

    Win Tin. (blogs.afp.com)

    TEMPO.CO, Yangoon - Win Tin, jurnalis senior dan pendiri gerakan prodemokrasi di Myanmar meninggal di usia 84 tahun. Ia menderita sakit pernapasan akut dan dirawat di rumah sakit di Yangoon, Ibu Kota Myanmar, sejak 12 Maret 2014.

    "Dia meninggal di rumah sakit subuh tadi pagi (Senin, 21 April 2014)," kata Nyan Win, juru bicara Partai Liga Demokrasi Nasional (NLD) kepada AFP yang dilansir The New Straits Times.

    Win Tin akan dimakamkan pada Rabu mendatang. "Kami sedih sekali kehilangan dia," ujar Nyan Win.

    Bersama Aung San Suu Kyi, pendiri sekaligus pemimpin NLD, Win Tin berjuang melakukan reformasi di tengah junta militer berkuasa di negara itu. Ia merupakan sosok sangat berpengaruh dalam gerakan reformasi Myanmar.

    Terhadap perjuangannya itu, penguasa militer Myanmar menjebloskan Win Tin ke penjara selama 19 tahun. Ia kemudian dibebaskan pada tahun 2008. "Ia pilar kekuatan kami," kata Nyan Win saat mengenang pria yang secara terbuka mengkritik Suu Kyi dalam menjalankan perannya di parlemen maupun NLD.

    Setelah dibebaskan pada 2008, Win Tin tetap mengenakan pakaian biru yang digunakan para tahanan sebagai bentuk protes karena banyak rekannya sesama pendukung prodemokrasi masih dibui.

    "Saat saya dibebaskan, ada sekitar 500 atau lebih tahanan politik masih dipenjara," kata Win Tin kepada BBC, April 2013. Dan, ia bersumpah akan mengenakan pakaian tahanan itu hingga seluruhnya dibebaskan. "Saya mau menunjukkan solidaritas saya dengan mereka."

    Untuk mengenang Win Tin, Tempo menurunkan hasil wawancara dengan Win Tin melalui telepon setelah ia dibebaskan pada 23 September 2008 dari penjara Insein, penjara paling angker di Myanmar. Hampir semua tahanan politik Myanmar pernah menginap di hotel prodeo itu. Berikut petikan wawancara yang dimuat di Koran Tempo, 4 November 2008.

    Apa tuduhan junta sehingga Anda dipenjara selama hampir 20 tahun?
    Saya sungguh-sungguh tidak tahu. Menurut saya, pemenjaraan saya merupakan tekanan dari junta. Saya tidak sendirian mengalaminya, ada juga jurnalis, politikus, mahasiswa, pelajar, dan kaum nasionalis yang loyal. Kami bagian dari penindasan politis junta.

    Bagaimana junta memutuskan Anda bersalah dan memenjarakan Anda?
    Mereka membuat beberapa dakwaan tentang kejahatan yang saya lakukan. Pada 1989, saya ditangkap, lalu diadili. Pengadilan menghukum saya 3 tahun penjara. Kemudian hukuman saya ditambah 10 tahun. Pada 1995, pengadilan menambah lagi hukuman saya selama 7 tahun. Praktis, saya dipenjara selama 20 tahun.

    Anda tidak melakukan perlawanan hukum?
    Tidak. Saya tidak melakukannya karena tidak ada gunanya. Situasi di Burma saat itu membuat tidak ada gunanya mengajukan permohonan banding atau perlawanan atas hukuman itu. Sebab, sebenarnya junta menjatuhkan hukuman karena saya dianggap musuh. Junta membuat hukum sendiri.

    Berapa jurnalis yang dijebloskan ke penjara saat Anda dihukum?
    Banyak. Jumlahnya bertambah terus dari waktu ke waktu. Bahkan seminggu lalu masih ada jurnalis yang dijebloskan ke penjara.

    Bagaimana perlakuan yang Anda terima selama di penjara? Anda pernah mengalami siksaan?
    Pada awal penangkapan saya pada 1989, saya tidak secara langsung disiksa. Karena mungkin usia saya sudah tua, ya. Tapi saya menjalani interogasi selama lima hari tanpa makan, minum, istirahat, dan tidur. Mereka terkadang menaruh saya di tempat terbuka sepanjang hari, menggunting rambut saya, dan pada waktu tertentu menaruh saya di ruang belakang yang terbuka pada tengah malam, sambil memukuli kepala saya. Saya tidak tahu siapa yang memukuli kepala saya saat itu. Begitulah seterusnya. Sangat tidak beradab perlakuan mereka. Masa itu memang sangat buruk. Ini sangat mengerikan. Sampai sekarang penyiksaan terus terjadi.

    Siksaan itu Anda alami sampai menjelang dibebaskan?
    Setelah 1996, saya tidak lagi mengalami siksaan langsung. Namun, saya ditempatkan di ruang khusus berukuran 10 x 15 kaki dan pernah di kamar berukuran paling besar 12 x 18 kaki atau sekitar 4 x 6 meter. Saya ditempatkan berpindah-pindah di ruang-ruang khusus dan sempit. Terkadang saya ditempatkan di kamar tanpa jendela, gelap, tertutup rapat. Saya hanya diizinkan keluar untuk bertemu keluarga pada malam hari selama 30 menit.

    Bagaimana makanan dan perawatan kesehatan selama di penjara?
    Secara teratur saya menerima jatah makan sebanyak dua kali sehari: nasi dan sayur-mayur. Itu saja. Makanan tambahan disuplai keluarga dan teman-teman dari luar. Dokter sesekali mengecek kesehatan saya. Semuanya berjalan normal, kelihatannya. Namun, masalah utamanya, tidak ada obat sama sekali. Ketika ada yang menderita sakit, seperti maag serta sakit jantung dan paru-paru, sangat sulit mendapatkan obat. Memang ada rumah sakit di dalam penjara. Tapi mereka menyuruh orang menyelundupkan obat ke luar penjara dan menjualnya.

    Tentu banyak yang menderita, bahkan tewas, karena terlambat mendapatkan pengobatan....
    Ya, banyak yang tewas. Selama saya di penjara, saya melihat langsung ada 7-8 tahanan politik yang tewas. Kalau dihitung sampai sekarang, mungkin yang tewas sudah ratusan orang.

    Untuk mengisi waktu luang, apa aktivitas Anda di penjara?
    Untuk saya pribadi, saya tidak melakukan apa pun. Kenapa? Di sana tidak ada peluang untuk bisa melakukan satu kegiatan, kecuali berjalan, lalu duduk. Namun, sebagai tahanan politik, kami melakukan banyak hal. Kami mencoba berhubungan dengan orang-orang di luar penjara. Terkadang ada yang iri karena mereka melihat kami dibiarkan melakukan hal ini. Kemudian kami mulai membuat kontak di luar dengan politikus, mahasiswa, pelajar, dan mulai mengirimkan informasi kepada mereka dan mereka pun menyelundupkan informasi kepada kami. Pada 1995, mereka menyelundupkan radio ke dalam penjara. Sehingga kami dapat mendengarkan siaran radio asing, seperti BBC. Lalu kami membagikan informasi di antara kami tentang situasi di luar.

    Kemudian apa yang terjadi?
    Ada yang membuat surat berisi protes soal situasi penjara, ada yang mengajukan permohonan bantuan tentang situasi di Burma. Lalu kami mengirimkannya ke Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang kemudian merespons pengaduan kami. Sehingga Dewan HAM mengecam penyiksaan yang kami alami.

    Apakah selama di penjara Anda juga mengurusi partai?
    Tidak begitu banyak. Karena saya tidak tahu persis situasi politik di luar. Yang kami tahu adalah tentang tindak kekerasan dan pelanggaran HAM di dalam penjara. Kami diperlakukan secara kejam, tidak ada pengobatan, makanan yang buruk, dan siksaan. Ini masalah besar.

    Bagaimana dampak upaya Anda mengkomunikasikan masalah besar itu?
    Utusan Dewan HAM PBB menemui kami di penjara. Begitu juga utusan Office of The High Commissioner for Human Rights dan Amnesty International. Dari waktu ke waktu kami diberi izin bertemu mereka dan sebaliknya, mereka diizinkan bertemu kami.

    Anda tahu mengapa Anda dibebaskan?
    Tidak. Saya sungguh tidak tahu. Saya dan 9.000 orang dibebaskan saat itu. Semuanya disebut penjahat kriminal. Mungkin juga karena semakin kuatnya tekanan internasional kepada junta. Juga mungkin, menurut junta, karena saya sudah tua sehingga mereka tidak ingin membiarkan saya mati di dalam penjara. Mungkin juga karena ASEAN Charter dan junta sudah meratifikasinya. Indonesia barangkali memberikan tekanan kepada junta dengan ratifikasi itu.

    Pernah bernegosiasi dengan junta soal pembebasan Anda?
    Tidak akan pernah, tidak ada gunanya. Kami para tahanan politik hanya menerima pembebasan tanpa syarat. Pemerintah harus menghormati kami sebagai manusia dan melakukan dialog dengan kami. Saya hanya percaya, para tahanan politik pada saatnya pasti bebas.

    Setelah bebas, apa kesibukan Anda sekarang?
    Ya, saya bersama teman-teman menawarkan kepada pemerintah junta jalan keluar lewat dialog politik. Kunci persoalan adalah dialog. Kemudian membebaskan seluruh tahanan politik.

    Menurut Anda, pemerintah junta akan menerima tawaran dialog itu?
    entu. Junta pasti mau berdialog dengan kami karena sudah terlalu lama masalah ini. Juga banyaknya tekanan dunia internasional dan dari ASEAN. Berdasarkan situasi ini, junta pasti mau duduk untuk berdialog dengan kami.

    Apakah ini langkah menuju rekonsiliasi di Burma?
    Ya. Perang sipil di Burma sudah sangat lama. Kami harus siap berdiskusi untuk melakukan rekonsiliasi dan kuncinya adalah political will dari pemerintah. Begitu pemerintah setuju, duduk bersama, dan bertemu masyarakat, maka akan ada penyelesaian masalah. Saya percaya itu.

    Omong-omong, Anda menaruh dendam kepada junta?
    Sama sekali tidak. Bagi saya, jika mengikuti perasaan sakit hati, tidak akan ada akhirnya. Forget it and forgive.

    Masih ingin kembali ke dunia jurnalistik setelah bebas?
    Tidak. Saya sudah terlalu tua. Saya sekarang Central Committee NLD. Saya lebih menggunakan waktu di partai. Sekarang mau jadi jurnalis harus meminta izin, ada Press Security, dan nama jurnalis tidak diizinkan ditulis secara lengkap (byline), melainkan diberi kode. Ya, kemerdekaan pers di negara kami memang persoalan besar.

    BBC | NEW STRAITS TIMES | MARIA RITA HASUGIAN

    Terpopuler:
    Kasus Murid TK JIS, Tersangka Wanita Jadi Otaknya 
    PNS Ini Punya Rekening Rp 1,3 T, Darimana Asalnya?
    Dukungan Pencopotan Suryadharma Meluas di Daerah


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.