Tenggelamnya Feri Korsel, Ini Kata Sang Kapten  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sebuah perahu penyelamat melintas di dekat kapal feri

    Sebuah perahu penyelamat melintas di dekat kapal feri "Sewol" yang nyaris tenggelam di lepas laut Jindo, Korea Selatan (17/4). Penyelamat berupaya mencari tahu keberadaan sejumlah penumpang yang masih terjebak di dalam feri ini. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jindo - Kapten kapal feri yang tenggelam di Korea Selatan ditahan oleh yang berwajib bersama dengan dua orang kru lainnya. Lee Joon-seok, 69 tahun, menghadapi ancaman hukuman karena dianggap lalai dalam menjalankan tugas dan pelanggaran hukum maritim.

    Berdasarkan saran yang diberikan oleh Lee, dia sengaja menunda proses evakuasi karena khawatir para penumpang malah akan hanyut jika tanpa penilaian yang tepat atas kondisi kapal saat itu.

    "Saya minta maaf kepada rakyat Korea Selatan karena telah menyebabkan gangguan, dan saya minta maaf yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban," ujar Lee seperti dikutip BBC, Sabtu, 19 April 2014.

    Lee mengatakan menjelang kejadian saat itu dia memberikan instruksi mengenai rute kapal. Setelah itu, ia kemudian kamar tidur. Namun tiba-tiba kapal tenggelam. (Baca: Feri Tenggelam di Korsel Kesalahan Kapten Kapal)

    Saat kejadian tenggelamnya kapal, menurut dia, arus laut saat itu sangat kuat dan suhu airnya sangat dingin. "Saya pikir, penumpang bisa tewas jika meninggalkan feri tanpa penilaian yang tepat atas kondisi feri," katanya. (Baca: Siswanya Tenggelam, Wakil Kepsek di Korsel Gantung Diri)

    Dia menambahkan, penumpang juga bisa tewas jika tak menggunakan jaket pelampung. "Bahkan, meski sudah memakai pelampung, mereka akan hanyut dan menghadapi kesulitan lainnya" katanya. Kondisi akan kian parah jika kapal penyelamat tidak kunjung datang saat kapal tenggelam.

    Juru mudi saat itu, Cho Joon-ki, yang juga sudah ditahan, mengatakan bahwa kapal bereaksi tidak seperti yang dia harapkan. "Ada kesalahan atas nama saya. Tapi kesalahan ini juga disebabkan karena gigi kapal berbalik lebih jauh dari yang seharusnya," katanya.

    Beberapa ahli percaya jika belokan kapal yang terlalu tajam dapat menyebabkan lepasnya penahan kargo yang berat, hingga menyebabkan posisi kapal tidak stabil. Sedangkan para ahli lainnya menduga, jika kapal ini tenggelam karena menabrak batu.

    Para pejabat mengatakan tim penyelamat telah berusaha memompakan udara dalam kapal untuk membantu penumpang yang terjebak di dalam kapal. Selain itu memompa udara dalam kapal ini, juga berguna untuk membantu mengapungkan kembali kapal.

    Saat ini, usaha untuk menemukan 268 penumpang yang masih hilang terhalang oleh jarak pandang yang terbatas dan arus yang kuat. Para penyelam pada Sabtu pagi melihat beberapa mayat di salah satu bagian kapal.

    Tetapi karena jarak pandang yang terbatas membuat membuat mayat-mayat itu belum berhasil dievakuasi. Jumlah penumpang yang meninggal hingga saat ini ada 28 orang sedangkan 179 orang lainnya berhasil diselamatkan.

    Kapal feri Sewol sedang berlayar dari Incheon menuju Jeju. Kapal ini kemudian terbalik dan tenggelam dalam waktu dua jam. Saat ini pihak berwenang sedang menginvestigasi soal belokan tajam yang dilakukan oleh feri dan perintah evakuasi yang terlambat.

    Tiga crane penyelamatan telah mencapai lokasi kejadian. Crane ini digunakan untuk mengangkat kapal atau memindahkan kapal feri ke daerah lain yang arusnya lebih lemah.

    AMIR TEJO

    Berita Lain
    Dikonfirmasi Soal Nepotisme, Gubernur Ucapkan Kata Kotor
    Kamis Putih, Paus Fransiskus Basuh Kaki Pria Muslim
    Ajaib, Anak yang Selamat Dalam Tragedi Larantuka


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.