Iran Batalkan Hukuman Mati 'Mata-mata' CIA  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah diplomat asing di Iran mendengarkan terjemahan dari pidato Presiden Iran yang baru, Hasan Rouhani dalam upacara pengambilan sumpah jabatan di gedung parlemen, di Teheran, Iran, Minggu (4/8). Rouhani menggantikan Mahmoud Ahmadinejad, yang memimpin Iran dari tahun 2005. AP/Ebrahim Noroozi

    Sejumlah diplomat asing di Iran mendengarkan terjemahan dari pidato Presiden Iran yang baru, Hasan Rouhani dalam upacara pengambilan sumpah jabatan di gedung parlemen, di Teheran, Iran, Minggu (4/8). Rouhani menggantikan Mahmoud Ahmadinejad, yang memimpin Iran dari tahun 2005. AP/Ebrahim Noroozi

    TEMPO.CO, Teheran - Pengadilan banding Iran membatalkan hukuman mati seorang mantan marinir Amerika Serikat yang diduga bekerja untuk badan intelijen Central Intelligence Agency (CIA). Demikian diungkapkan pengacaranya, seperti dimuat Guardian edisi 12 April 2014.

    Amir Hekmati, yang berkewarganegaraan ganda AS-Iran dan lahir di Arizona, ditangkap pada Agustus 2011 lalu. Ia diadili dan divonis dengan hukuman mati karena diduga melakukan aksi mata-mata.

    Jaksa Iran mengatakan Hekmati menerima pelatihan khusus dan bertugas di pangkalan militer AS di Irak dan Afganistan sebelum menuju Iran sebagai mata-mata. Keluarga Hekmati dan pemerintah AS berulang kali membantah pria 31 tahun adalah seorang mata-mata, dan mengatakan ia ke Iran untuk mengunjungi neneknya.

    Mahkamah Agung Iran membatalkan hukuman mati setelah Hekmati mengajukan banding, meminta pengadilan ulang atas kasusnya pada tahun 2012. "Pengadilan revolusioner negara itu kemudian membatalkan dakwaan spionase," kata pengacaranya, Mahmoud Alizadeh Thabathaba'i. Hekmati tetap dihukum karena "bekerja sama dengan pemerintah musuh" dan dijatuhi hukuman 10 tahun penjara.

    Thabathaba'i mengatakan dirinya akan mengusahakan pembebasan bersyarat Hekmati dari penjara Evin, yang berada di utara ibu kota Iran, Teheran. Hekmati berada di balik jeruji sejak penangkapannya.

    "Menurut hukum, jika seseorang menjalani sepertiga dari periode penahanannya dan dalam waktu itu menunjukkan perilaku yang baik di penjara, ia berhak atas pembebasan bersyarat," kata Thabathaba'i. "Sepertiga dari hukumannya akan berakhir sekitar bulan September dan Oktober."

    Adanya pembebasan bersyarat memungkinkan Hekmati meninggalkan negara itu, meski bergantung pada apa yang akan diputuskan pengadilan. Pembebasan itu juga akan memungkinkan Hekmati mengunjungi ayahnya, Ali Hekmati, seorang profesor di Mott Community College di Flint, Michigan, yang kata anggota keluarganya menderita kanker otak dan baru-baru ini menderita stroke.

    Pemerintah Barack Obama, November lalu, meminta Iran membebaskan Hekmati dan dua orang Amerika lainnya yang diduga ditahan di sana.

    GUARDIAN | ABDUL MANAN

    Berita Lainnya
    Tim Pencari MH370 Mulai Menyerah  
    Jerman Gempar, di Cangkir Ada Wajah Hitler
    Milisi Donetsk Rebut Markas Polisi dan Dewan Kota
    William-Kate Middleton Isyaratkan Ingin Punya Anak Lagi  
    Bayi Pakistan Itu Dibebaskan dari Dakwaan Polisi  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.