Pilot AS Desak Maskapai Pakai Teknologi Satelit  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah penumpang pesawat Malaysia Airlines Boeing 777-200ER MH318 dari Kuala Lumpur menuju Beijing, (17/3). Pesawat MH318 merupakan pesawat pengganti MH370 yang hilang saat terbang menuju Beijing dari Kuala Lumpur pada (8/3). REUTERS/Edgar Su

    Sejumlah penumpang pesawat Malaysia Airlines Boeing 777-200ER MH318 dari Kuala Lumpur menuju Beijing, (17/3). Pesawat MH318 merupakan pesawat pengganti MH370 yang hilang saat terbang menuju Beijing dari Kuala Lumpur pada (8/3). REUTERS/Edgar Su

    TEMPO.CO, Jakarta - Asosiasi Pilot Amerika Serikat meminta pemerintah mewajibkan maskapai penerbangan menggunakan teknologi satelit yang memantau keberadaan pesawatnya terus-menerus. Usulan itu muncul dari kasus pesawat Malaysia Airlines (MAS) yang hilang sejak 8 Maret 2014 dan hingga saat ini belum ditemukan. (Baca: Firma Hukum Amerika Minta Bukti MH370 Cacat)

    "Penerapan teknologi seperti ADS-B dan penggunaan satelit yang mengawasi pesawat selama penerbangan harus menjadi standar di industri penerbangan," kata Air Line Pilots Association yang berbasis di AS dalam pernyataannya, Sabtu, 5 April 2014. (Baca: MH370 Terkuak Jika Kotak Hitam Tersambung Satelit

    Teknologi yang ada saat ini memungkinkan otoritas pengendali penerbangan melacak pesawat yang melintas lautan atau wilayah terpencil melalui suara berbasis satelit dan layanan komunikasi. Maskapai harus berlangganan untuk mendapatkan fasilitas itu. Sayangnya, tidak ada kewajiban sehingga kebanyakan maskapai enggan menyewa karena dapat mengurangi keuntungan perusahaan. 

    ADS-B adalah perangkat navigasi satelit yang mampu menghubungkan ke Global Positioning System atau jaringan berbasis ruang lainnya. Menurut Inmarsat, operator satelit yang berbasis di London, Malaysia Airlines cukup membayar 10 poundsterling tiap penerbangan untuk mendapatkan versi terbaru sistem komunikasi satelit yang memungkinkan tim SAR mempersempit daerah pencarian di bagian selatan Samudera Hindia.

    Andaikata pesawat MAS dengan nomor penerbangan MH370 itu berlangganan sistem itu, otoritas pengendali dan tim SAR akan menerima koordinat yang tepat dan beberapa data dasar lain dari penerbangan. Jadi, tidak hanya  sinyal ping yang akhirnya digunakan Inmarsat untuk menentukan jalur MH370 sejak hilang dari radar di Laut Cina Selatan.

    Memang, akhir pekan lalu muncul berita menyenangkan bahwa kapal milik Cina dan Australia mendeteksi sinyal yang sesuai dengan yang ada pada suar Flight Data Recorder (FDR) di kotak hitam (black box).

    Kapal Australia Ocean Shield yang membawa  alat dari Amerika bernama towed pinger locator mendengar sinyal yang dipancarkan kotak hitam selama dua jam pada Ahad lalu. Lokasinya sekitar 1.680 km sebelah barat laut Perth.

    Sebelumnya, kapal Cina dikabarkan mendeteksi sinyal kotak hitam pada frekuensi 37,5 kHz, di daerah lain. Dari kedua temuan itu, para ahli mewanti-bahwa mungkin ada beberapa sumber berbeda dari sinyal tersebut, termasuk dari
    ikan paus.

    Selama ini, perangkat pendeteksi sinyal dianggap paling menjanjikan menemukan kotak hitam. Akan tetapi, baterai yang memancarkan sinyal di black box itu daya tahannya dirancang hanya untuk 30 hari.

    Otoritas penerbangan Prancis pernah merekomendasikan agar perusahaan pembuat pesawat dan kotak hitam memperpanjang usia baterai hingga 90 hari. Langkah itu dilakukan setelah inisiden jatuhnya pesawat Air France di Samudra Atlantik pada Juni 2009.  Namun, rekomendasi itu baru akan diterapkan mulai 2018.

    Tiga Inovasi Teknologi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.