Radar Sibuk, MH370 Tak Terlacak Lewati Indonesia?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peta ini memperlihatkan posisi terakhir pesawat MH370 ketika hilang kontak pada jam 1.30 am. Namun tertangkap oleh radar militer Malysia berubah arah hingga 1 jam 10 menit, (sampai jam 2.40 am), setelah itu lenyap dari radar. ktla.com

    Peta ini memperlihatkan posisi terakhir pesawat MH370 ketika hilang kontak pada jam 1.30 am. Namun tertangkap oleh radar militer Malysia berubah arah hingga 1 jam 10 menit, (sampai jam 2.40 am), setelah itu lenyap dari radar. ktla.com

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Teknologi PT Dirgantara Indonesia Andi Alisjahbana mengatakan radar yang beroperasi di dunia penerbangan digolongkan menjadi dua, yakni radar sipil dan radar militer. Dua radar itu memiliki dua perbedaan yang cukup signifikan dalam operasionalnya. Kemampuan dua radar pun berbeda-beda.

    Radar sipil, kata dia, memiliki wilayah pantauan yang jangkauannya lebih pendek. Radar itu cenderung mengamati obyek-obyek yang berada di wilayah terbang zona menengah, yakni ketinggian 20-30 ribu kaki di atas permukaan laut. Namun radar itu lebih detail dalam menyampaikan informasi mengenai identitas pesawat yang sedang melintas. (Baca: Indonesia Deteksi MH370 di Laut Cina Selatan )

    Adapun radar militer, ujar Andi, daya jangkaunya memang lebih luas ketimbang sipil. Namun radar itu tidak menginformasikan secara detail obyek yang sedang melintas di udara.

    Radar itu pun hanya dirancang untuk mendeteksi unit militer yang memiliki karakteristik khusus. Karakteristik itu di antaranya terbang di zona rendah dan tinggi serta memiliki kecepatan tinggi.

    Untuk pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370, Andi menyatakan pesawat itu tidak terdeteksi radar sipil, termasuk radar memasuki wilayah Indonesia karena kemungkinan zona menengah yang menjadi wilayah terbang penerbangan sipil memiliki lalu lintas udara yang sangat padat. Dia menduga tingkat kepadatan itu membuat pesawat tidak teridentifikasi saat berpindah jalur. (Baca: MH370 Tak Terdeteksi Melewati Indonesia?)

    Sedangkan radar militer, kata dia, lebih sulit untuk mengidentifikasi pesawat sipil karena data yang ditampilkan sangat banyak. Pihak militer juga biasanya hanya mengamati obyek yang terbang di luar zona menengah dan terbang dalam kecepatan tinggi. "Kalau selain itu, biasanya kurang diperhatikan karena merupakan obyek sipil," ujarnya.

    Andi mengatakan ada kemungkinan pesawat tersebut melewati wilayah udara Indonesia. Namun bisa saja keberadaannya tidak terpantau karena jalur penerbangan itu selalu padat dalam 24 jam. "Kalau radar militer, perlu keahlian intelijen untuk melakukan identifikasi pesawat," katanya.

    Selain itu, radar militer Indonesia bisa saja tidak beroperasi ketika pesawat Malaysia Airlines MH370 menghilang. Hal itu disebutnya merupakan hal wajar karena Indonesia tidak sedang dalam kondisi perang dengan negara lain.

    Radar militer, kata dia, biasanya aktif 24 jam jika dalam siaga perang dengan negara lain. "Tapi kebijakan itu tentu ada di Kementerian Pertahanan dan TNI," ujarnya. (Baca: Dicaci Kerabat Korban MH370, Ini Jawaban PM Malaysia)

    Malaysia Airlines MH370 hilang sejak 8 Maret 2014. Pesawat jurusan Kuala Lumpur-Beijing, Cina, membawa 239 orang, termasuk awak pesawat. Penyebab pasti raibnya pesawat ini masih belum diketahui. Pemerintah Malaysia pun akhirnya menyatakan bahwa pesawat jatuh di Samudera Hindia selatan.



    DIMAS SIREGAR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dituding Sebarkan Hoaks, Wartawan FNN Hersubeno Dipolisikan PDIP

    DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta resmi melaporkan Hersubeno Arief ke Kepolisian. Hersubeno dilaporkan atas dugaan pencemaran nama baik.