Basrah, Kota Tak Tersentuh Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Basrah: Setelah penat dari perjalanan sejauh 200 kilometer dan lelah memutari pasar loak Safwan di perbatasan Irak-Kuwait, Basrah adalah kota tujuan terakhir perjalanan saya ke bagian selatan Irak. Sebelumnya, saya membayangkan Basrah sebagai kota asri, hijau penuh pohon korma dan sungai yang bersih. Apalagi, dalam cerita Petualangan Sindbad, Basrah adalah titik awal perjalanan sebelum sang pelaut itu mengarungi dunia.Masuk kota Basrah, pertama yang dirasakan adalah dengkingan bunyi klakson belasan mobil yang tak henti-henti. Beberapa penumpang dari mobil Mercedes atau Toyota Crown, mengeluarkan sebagian tubuh mereka melalui jendela, bertepuk tangan ada yang menabuh gendang dan berteriak-teriak bersahut-sahutan. Di tengahnya ada mobil Toyota Crown Putih lainnya dengan hiasan bunga. "O, itu, mawaris, orang pengantar kawinan, begitulah cara orang Arab. Pada akhir bulan ini banyak mengadakan acara kawinan. Karena bagi penganut Syiah, tak boleh ada perayaan perkawinan di Bulan Muharram," kata Bassam Sein, sopir yang membawa saya ke daerah selatan Irak.Memang selama di Basrah dan kota-kota di selatan yang saya lalui, belasan pengiring temanten, berebut jalan, hingga memacetkan jalan. Bahkan beberapa diantara mereka berjoget-joget di depan mobil yang berhiaskan bunga-bunga. Tak ada rasa, negeri itu sedang dilanda perang. Memang beberapa hari sebelum saya berniat ke Basrah, seorang polisi bea cukai Irak asal Basrah, yang menginap di Hotel Coral Palace --tempat saya menginap di Baghdad--, menyatakan Basrah berbeda dengan Baghdad. "Disana tak ada ketegangan, seperti disini," kata polisi yang datang saat hari pemungutan suara hingga dua hari setelahnya.Kaki lima dan pasar loak limpahan Safwan menambah kemacetan di daerah itu. Kemacetan terus terjadi sampai ke tengah kota. Lalu lalang manusia memadati jalan-jalan bagai suasana pasar-pasar di Jakarta saat menjelang lebaran. Mobil Kia Sephia yang kami kendarai parkir di sebuah lahan kosong, yang dijaga empat penjaga parkir. Kami menyeberang jalan diantara kepadatan mobil, melewati lapak-lapak kaki lima yang memenuhi pinggiran jembatan. Cerita-cerita tentang Basrah yang asri dengan sungai yang bersih langsung hilang dari benak. Kalinya kotor, walaupun tak sehitam kali-kali di Jakarta Barat. Sampah juga menumpuk di pinggir-pinggirnya.Sampai di seberang jalan, tampak tumpukan kardus barang-barang elektronik, seperti kulkas, mesin cuci, generator dan lainya memenuhi trotoar, persis di daerah Glodok dan Pinangsia, Jakarta. Di antara toko-toko elektronik itulah, kami menginap di hotel Al-Bustan. Di seberang hotel, terdapat beberapa tempat makan, minum dan mengisap nargila, lempengan besi panjang, dengan tabung gelas berisi air rasa apel atau buah-buahan, dengan selang penghisap dan bara membakar di atasnya. Melalui pipa tersebut, asap dikeluarkan. Menghisap nargila seperti merokok. Dan setelahnya, kepala jadi enteng. Waktu sudah sore saat aku bergabung dengan para peminum chai (teh pekat campur kapulaga) dan penikmat nargila. Di kursi kayu berlapiskan karpet tipis aku dan Bassam menikmati teh sore dan nargila. Di depanku tampak beberapa lelaki tua asyik duduk mengobrol, ada yang cuma minum teh, merokok atau mengisap nargila. Ada yang berjas, ada pula yang memakai pakaian para sheik Arab. Angin dingin menambah nikmat rasa seruputan chai panas. "Tak ada lagi hiburan di Irak ini, yang cuma minum chai dan mengisap nargila," kata Bassam. Semakin sore semakin banyak orang datang ke warung itu. Aku juga menggeser memberi tempat lelaki muda lainnya yang ingin duduk di sebelahku. Bassam menawarkan aku mencoba khomer, teh lemon dengan warna yang lebih bening. "Khomer ini cuma ada di Basrah dan Turki, tempat asalnya nargila," kata Bassam. Kenikmatan khomer membuat saya lupa kepenatan dan hiruk pikuk Kota Basrah.Basrah dibangun Utba bin Ghazwan atas permintaan Kalifah Umar bin Khatab pada 637. Lalu menjadi kota penting dalam pengembangan agama Islam pada zaman itu. Empat puluh tahun setelah Basrah dibangun, sekitar 300 ribu orang tinggal disana. Pada zaman keemasan Kalifah Abbasiyah, Basrah menjadi kota persinggahan penting para pedagang Arab, sebelum mengarungi lautan berdagang ke timur jauh di Cina. Basrah berada 67 kilometer utara Teluk Arab, 50 kilometer dari perbatasan Kuwait-Irak dan 549 kilometer selatan ibukota Irak, Baghdad. Kota ini pernah dijuluki "Venice dari Timur" karena sungainya bisa diarungi dengan perahu-perahu wisata. Apalagi --ketika masa itu--, kanan kiri sungai ditumbuhi pohon-pohon korma dan zaitun. Bekas-bekas Basrah sebagai kota penting, tampak dari adanya bekas-bekas hotel mewah di sepanjang Shatl-Arab, sebuah selat di ujung Basrah yang tembus ke Teluk Arab, yang membelah Basrah dengan Pulau Sindbad. Menjelang petang, saya menyusuri Shatl Arab. Di dekat masjid terdengar tembakan berulang-ulang. Banyak orang berkerumun di sana. Rupanya sedang terjadi keributan antar polisi Irak. Di ujung jalan, reporter televisi Al-Hurra, sebuah stasiun TV Irak yang dibiayai Amerika Serikat tampak sedang mengambil gambar (live) dijaga tentara Republik Irak, berloreng biru. Aku dan Bassam menghindari para petugas itu karena malas dengan kerepotan dan interogasi selama tiga hari perjalanan menuju Basrah. Esoknya, saat saya sudah di Baghdad, di stasiun berita televisi tampak reporter yang aku lihat di Basrah, mati ditembak orang tak dikenal di dekat rumahnya di Basrah. Darah masih berceceran di mobilnya.Shatl-Arab memang tempat yamsi-yamsi (jalan-jalan), di pinggir selat itu. Tampak beberapa tempat digunakan orang untuk berfoto. Beberapa tukang foto amatir memindah-mindahkan pohon dan bunga-bunga yang terbuat dari plastik, serta boneka binatang untuk latar belakang foto. Beberapa muda-mudi nampak menikmati jalan-jalan petang, beberapa keluarga dengan beberapa anak tampak bercengkerama.Berjalan semakin jauh, melewati jembatan penyeberangan ke Pulau Sindbad, suasana disekitar mulai lebih sepi. Apalagi, Hotel Sheraton yang dulunya megah, kini hanya berdiri membisu, dengan penerangan seadanya, dan tertutup. "Itu tempat tinggal tentara Inggris yang menjaga Basrah," kata Bassam. Berbeda dengan tentara AS di Baghdad yang mondar mandir di jalan, tentara Inggris di Basrah jarang terlihat. Saya baru melihat sekali dan mereka tidak bermasalah dengan orang yang lalu lalang di dekat mereka. "Tentara Inggris menjaga Basrah memang Ok, nggak sok pamer," kata Kamal Ali, anak pemilik hotel tempat aku menginap.Kalau saja tak ada kejadian, yang bikin tak enak hati, aku menganggap Basrah kota yang aman. Ketika gelap sudah menyergap, saat toko-toko mulai tutup, lapak-lapak kaki lima juga sudah dirapikan, aku kembali ke hotel. Pak tua pemilik hotel mempersoalkan kehadiranku, sebagai orang asing bersama seorang Irak. Mereka minta aku ikut ke kantor polisi. "Kamu harus lapor, saya gak mau kalau ada kejadian apa-apa terhadap kamu di hotel ini," kata bapak itu. Saat itu sedang mati lampu.Anak pemilik hotel, Kamal mengantar kami mengajak berjalan menembus gelap dan hujan rintik-rintik. Sekitar tiga ratus meter menyusuri bekas-bekas toko yang sudah tutup. Di depan sebuah bangunan tak terurus nampak seorang tiga polisi berbaju biru dengan senjata laras panjang sedang asyik mengobrol. Kamal langsung melapor, dan kami diantarkan ke lantai dua, tempat sang komandan. Dalam gelap menaiki tangga, teringat masa-masa genting saat orde baru, dimana setiap orang yang baru datang harus melapor ke koramil. Setengah jam aku ditanyai macam-macam, juga Bassam dan maksud keberadaanku di Basrah. Surat-surat kelengkapanku juga diperiksa. Akhirnya polisi melepaskan aku dan Bassam. "Kami cuma cek, takut terjadi apa-apa maklum suasana seperti ini, banyak orang asing yang diculik Ali Baba (begal)," kata kepala polisi itu.Kami pun saling berpelukan dan mengucapkan terima kasih. Untuk melepaskan ketegangan, rasa curiga dan gundah, aku mengajak Kamal dan Bassam minum chai di pinggir jalan, tempat sore hari aku kongkow-kongkow. Saat hujan mulai turun, kami menyeberang kembali ke hotel. Nonton berita malam di lobi hotel yang gelap, bersama belasan orang lainnya. Pagi-pagi, saat cuaca dingin masih menusuk tulang, aku dan Bassam langsung cabut ke garasi mobil di seberang jalan dan bersiap-siap kembali ke Baghdad, agar tak terlalu larut sampai di kota itu.

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.