4 Penyebab Puing Malaysia Airlines MH370 Belum Ditemukan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua puing yang diduga bagian dari pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang hasil tangkapan satelit ini disediakan oleh Australian Maritime Safety Authority (AMSA) di sebuah area 185 km dari lokasi awal pencarian di Samudra Hindia (20/3).  Pesawat penyelamat Australia sedang dikirimkan untuk menyelidiki puing-puing ini. REUTERS/Australian Maritime Safety Authority

    Dua puing yang diduga bagian dari pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang hasil tangkapan satelit ini disediakan oleh Australian Maritime Safety Authority (AMSA) di sebuah area 185 km dari lokasi awal pencarian di Samudra Hindia (20/3). Pesawat penyelamat Australia sedang dikirimkan untuk menyelidiki puing-puing ini. REUTERS/Australian Maritime Safety Authority

    TEMPO.CO, Jakarta -  Pesawat Cina dan Jepang bergabung melakukan pencarian Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan MH370 yang hilang sejak dua pekan lalu.  Pesawat dua negara tersebut bahu membahu dengan pesawat dari Australia, Amerika Serikat dan Selandia Baru yang sebelumnya mengitari bagian selatan Samudra Hindia, tempat yang diduga ada puing MH370.

    Kamis, 20 Maret 2014, satelit yang dioperasikan Digital Globe Inc menemukan dua objek mengambang di posisi 43,58 Lintang Selatan dan 90,57 Bujur Timur. Satu objek memiliki ukuran 24 meter dan lainnya sekitar 5 meter.  Lokasinya terletak sekitar 2.500 kilometer sebelah barat daya Perth, Australia.

    Kawasan ini mendapat julukan "Roaring Forties" atau pergerakan angin yang tidak memiliki hambatan karena tak adanya daratan. Walhasil angin itu mampu menciptakan gelombang laut hingga setingga 6 meter atau bahkan lebih. (Baca: Malaysia Airlines MH370 Terlilit di Pusaran ‘Roaring Forties'?)

    Hingga Sabtu, 22 Maret 2014 pencarian di selatan Samudra Hindia ini belum membuahkan hasil. Ada beberapa kemungkiinan penyebab.

    1. Luasnya Lokasi Pencarian

    Lokasi yang harus dijelajahi sangat luas, yaitu 23 ribu kilometer persegi. Area ini disebut terlalu besar bagi tim pencari yang melibatkan empat pesawat terbang dan tujuh kapal laut milik Australia.

    Menurut Simon Boxhall, pakar kelautan dari National Oceanography Center di Southampton, Inggris, kecepatan arus dalam kondisi normal di lokasi pencarian mencapai  2 kilometer perjam. Kecepatan itu tergolong tinggi untuk skala di lautan. “Serpihan itu bisa saja sudah bergeser sejauh lebih dari 200 kilometer,” ujar dia.

    2. Faktor Cuaca

    ‘Roaring Forties’ sedang aktif di wilayah ini.  Otoritas Keselamatan Maritim Australia menghentikan sementara pencarian pada Kamis, 20 Maret 2014. Penghentian dilakukan setelah pilot pesawat pencari melaporkan kondisi cuaca yang disebut sangat buruk di mana ketinggian ombak mencapai enam meter.

    Kondisi cuaca di Roaring Forties dilaporkan hampir selalu dalam situasi tidak bersahabat. Tim pencari harus benar-benar mengamati dengan mata telanjang untuk melihat keberadaan serpihan pesawat. Tapi hal itu terganggu oleh cuaca buruk yang membatasi jarak pandang. Teknologi sinar inframerah pun tidak banyak membantu.

    3. Serpihan Hancur

    Citra radar milik Australia memperlihatkan dua serpihan besar yang diduga sebagai bagian dari pesawat tersebut. Tapi Profesor Alexander Babanin dari University Technology of Australia, mengatakan dua serpihan besar itu bisa saja telah hancur oleh hantaman ombak dan badai di Samudera Hindia.

    Jika hal itu terjadi, Babanin memperkirakan bahwa pecahan puing itu telah menyebar lebih dari 10 kilometer. “Jadi bisa saja serpihan itu sudah terpisah-pisah secara jauh, karena arus di lautan lebih besar dari gelombangnya,” kata dia.

    4. Puing Pesawat Tenggelam

    Simon Boxhall mengatakan salah satu kemungkinan terburuk dalam proses pencarian adalah puing pesawat yang tenggelam. Dia mengatakan, bagian pesawat yang masih mengambang disebabkan unsur udara yang berada di dalamnya. Melihat kondisi cuaca yang buruk, bisa saja partikel udara sudah hilang sehingga bagian pesawat tersebut tenggelam. “Apakah puing itu masih mengambang? Kondisi cuaca membuat kemungkinan udara melepaskan diri dari dalam puing cukup besar,” katanya.

    GUARDIAN | DIMAS SIREGAR

    Topik terhangat:
    Kampanye 2014 | Jokowi Nyapres | Malaysia Airlines | Pemilu 2014 | Kasus Century

    Berita terpopuler lainnya:
    Ditanya Video Ical-Marcella, Ical Tertawa
    Inilah Hasil Pengundian Perempat Final Liga Champions
    Kisah Baterai Lithium dan 4 Ton Manggis di Bagasi MH370


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Lika-Liku Calon Wakil Gubernur DKI Jakarta Pengganti Sandiaga Uno

    Kursi Wakil Gubernur DKI Jakarta kosong sejak Agustus 2018. Pada Januari 2020, Partai Keadilan Sejahtera dan Partai Gerindra mengajukan dua nama.