Surat Curhat Putri Pilot Malaysia Airlines

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang wanita menulis pesan doa dan dukungan kepada sejumlah awak pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang, di pusat perbelanjaan di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia, (16/3). REUTERS/Damir Sagolj

    Seorang wanita menulis pesan doa dan dukungan kepada sejumlah awak pesawat Malaysia Airlines MH370 yang hilang, di pusat perbelanjaan di Petaling Jaya, Kuala Lumpur, Malaysia, (16/3). REUTERS/Damir Sagolj

    TEMPO.CO, Kuala Lumpur - Misteri keberadaan pesawat Malaysia Airlines nomor penerbangan MH370 terus mengundang perhatian dunia. Orang dari berbagai penjuru bumi bertanya-tanya di manakah burung besi yang mengangkut 239 orang itu berada. Salah seorang yang merasa sangat prihatin atas tragedi hilangnya pesawat itu adalah dokter Nur Nadia Abdul Rahim, putri pilot senior di Malaysia Airlines yang bernama Kapten Abdul Rahim Harum. (Baca: Mengapa Sinyal Darurat Malaysia Airlines Tak Aktif)

    Situs berita Malaysia, New Straits Times, memuat surat yang isinya menyentuh pada Senin, 17 Maret 2014. Di suratnya yang berjudul The Flying Driver  itu, Nur Nadia mengungkapkan betapa bangganya punya ayah sebagai pilot, sekaligus penyesalannya karena selama ini ia menganggap pekerjaan ayahnya tidak berbahaya.

    Berikut ini surat Nadia:

    "Catatan ini seharusnya saya buat sejak lama agar ayah tahu betapa bangganya saya atas ayah. Saya bangga atas apa yang dia lakukan, meskipun dia jarang berada di sampingku selama hampir setengah dari hidup saya.

    Saya menyesal karena pernah merasa malu untuk mengatakan ke teman-teman bahwa ayah adalah seorang pilot. Padahal, ayah adalah pilot yang sangat baik.

    Saya menyesal karena pernah mengatakan ke teman-teman bahwa pekerjaan ayah adalah seorang sopir. Karena saya tidak ingin mendapat perlakuan istimewa. Toh, kehidupan saya dan keluarga juga biasa-biasa saja.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rencana dan Anggaran Pemindahan Ibu Kota, Ada Tiga Warga Asing

    Proyek pemindahan ibu kota negara ke Kalimantan Timur dieksekusi secara bertahap mulai 2020. Ada tiga warga asing, termasuk Tony Blair, yang terlibat.