Lagi, 300 Demonstran Bentrok di Venezuela  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang demonstran perempuan anti-pemerintah merunduk saat bentrokan dengan polisi di Caracas (3/3). Oposisi Venezuela Leopoldo Lopez menyuruh para demonstran untuk tetap mempertahankan protes terhadap Presiden Nicolas Maduro.  REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

    Seorang demonstran perempuan anti-pemerintah merunduk saat bentrokan dengan polisi di Caracas (3/3). Oposisi Venezuela Leopoldo Lopez menyuruh para demonstran untuk tetap mempertahankan protes terhadap Presiden Nicolas Maduro. REUTERS/Carlos Garcia Rawlins

    TEMPO.CO, Caracas - Ribuan pengunjuk rasa kembali membanjiri jalanan ibu kota Venezuela, Selasa, 4 Maret 2014. Dipimpin mahasiswa, mereka mengenakan baju putih dan mengibarkan bendera sebagai tanda memperingati kematian mantan presiden Hugo Chavez. Sepanjang hari, pengunjuk rasa menggelar aksi damai dengan berjalan dari lingkungan kelas menengah ke atas di Caracas sampai menuju kawasan kumuh di Petare.

    Begitu malam tiba, sekitar 300 demonstran mulai bertindak radikal. Mereka melemparkan batu dan bom molotov ke arah pasukan Garda Nasional. Serangan itu dibalas balik oleh Garda Nasional dengan gas air mata dan meriam air. "Demonstrasi dan serangan itu merupakan cara mahasiswa serta pihak oposisi untuk menandai kematian Chavez dan memprotes Presiden Nicolas Maduro," tulis Sky News, Rabu, 5 Maret 2014.

    Pada Rabu ini, Maduro akan memimpin parade militer dan sipil. Arak-arakan itu digelar guna memperingati satu tahun meninggalnya Chavez. Mantan presiden yang telah memimpin Venezuela salam 14 tahun itu meninggal karena kanker di usia 58 tahun.

    Unjuk rasa terhadap Maduro meletus sejak 4 Februari 2014 di perbatasan Kota San Cristobal. Mahasiswa dan oposisi menuding Maduro sebagai penyebab inflasi sebesar 56 persen pada tahun lalu, kelangkaan kebutuhan pokok, dan pelarian sejumlah pelaku kriminal. Unjuk rasa itu dijawab pemerintahan Maduro dengan sikap keras. Akibatnya, 18 orang tewas dan 260 terluka.

    Komisioner HAM PBB Navi Pillay sempat menyatakan prihatin akan tindakan Garda Nasional. Pillay menganggap pemerintah Maduro telah menggunakan kekuatan secara berlebihan saat menghadapi demonstran. (Baca juga: Venezuela Rusuh, Sekjen PBB Temui Menlu).

    Maduro sendiri menuding protes mahasiswa ditunggangi oleh elemen fasis yang ingin mengusirnya. Ia bahkan menuduh Amerika Serikat mendukung oposisi untuk melakukan kudeta. Tuduhan itu terkait dengan pernyataan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry bahwa pemerintahannya telah menggunakan kekuatan yang berlebihan terhadap demonstran. Maduro menganggap perkataan Kerry itu seakan memberikan lampu hijau agar pengunjuk rasa meneruskan protesnya.



    SKY NEWS | WASHINGTON POST | CORNILA DESYANA

    Terpopuler:
    Putin Serukan Militer Kembali ke Barak
    Rusia Mengakui Intervensi Atas Permintaan Ukraina
    Rusia Intervensi Ukraina, Apa Tindakan Amerika?
    KPK Thailand Dibom
    Intervensi Ukraina, Amerika Bekukan Ekonomi Rusia

     


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.