Bekas PM Australia Kecewa Sikap Pemerintahnya Soal Irak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Bekas PM Australia, Hon. Malcolm Frazer, kecewa atas sikap Pemerintah Australia yang terlalu mementingkan hubungan dan kedekatannya dengan Amerika Serikat dibanding kepentingan regional. Kekecewaan Malcolm ini disampaikan saat bertemu Presiden Megawati Soekarnoputri di Istana Negara, Jakarta, Rabu (12/3). Malcolm sendiri datang ke Jakarta untuk menghadiri pertemuan Interaction Council yang diselenggarakan Habibie Center, Selasa(11/3). Menurut Menteri Luar Negeri Indonesia Nur Hassan Wirajuda, yang ikut mendampingi Presiden menerima Malcolm, pada kesempatan itu Malcolm sempat membacakan hasil pertemuan di Habibie Center, terutama isu global krisis Irak. Malcolm, kata Wirajuda, menolak rencana penyerangan AS ke Irak. Aksi itu dinilainya sebagai tindakan sepihak. Ia mengaku sepakat dengan sikap Indonesia yang lebih mengutamakan penyelesaian damai, tanpa mengesampingkan peran Dewan Keamanan PBB. Menurut Menteri, Malcolm tidak menyampaikan permintaan khusus kepada Presiden Megawati untuk berbicara kepada Pemerintah Australia berkenaan dengan kekecewaannya itu. Dia kan sekarang warga negara biasa, kata Wirajuda. Malcolm hanya menggambarkan gelombang penolakan penyerangan ke Irak yang terjadi di Australia. Menurut Malcolm, gelombang penolakan perang, kali ini jauh lebih besar dari perang Irak masa lalu. Selain dalam bentuk demonstrasi, opini yang terbentuk di masyarakat juga begitu besar. Pertemuan Malcolm-Megawati juga membicarakan tentang hubungan Indonesia-Australia yang belakangan sedikit terganggu karena beberapa kasus seperti kasus Hendra Rahardja. Malcolm mengaku kecewa pada pemerintahnya. Ia menilai, dulu Australia melihat dunia dari kacamata sebagai bagian dari kawasan ASEAN. Namun belakangan, Australia terlalu mementingkan kedekatannya dengan Amerika Serikat. (Retno Sulistyowati--Tempo News Room)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Pilkada Langsung, Melalui DPRD, dan Asimetris

    Tito Karnavian tengah mengkaji sejumlah pilihan seperti sistem pilkada asimetris merupakan satu dari tiga opsi yang mungkin diterapkan pada 2020.