Pertama Kali, Suriah dan Oposisi Berunding  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • (ki-ka) Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, utusan PBB-Liga Arab untuk Suriah Lakhdar Brahimi, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, PBB Acting Direktur Jenderal Michael Moeller, dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry menghadiri sidang paripurna pertemuan untuk mengakhiri krisis di Suriah di Montreux, Swiss (22/1). AP / Gary Cameron, Renang

    (ki-ka) Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, utusan PBB-Liga Arab untuk Suriah Lakhdar Brahimi, Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon, PBB Acting Direktur Jenderal Michael Moeller, dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry menghadiri sidang paripurna pertemuan untuk mengakhiri krisis di Suriah di Montreux, Swiss (22/1). AP / Gary Cameron, Renang

    TEMPO.COMontreux - Untuk pertama kalinya, pemerintah Suriah dan oposisi bertemu guna melakukan perundingan perdamaian. Dalam perjumpaan itu, mereka sepakat membuang permusuhan bersama. Menurut mediator PBB, pihak yang bertikai mungkin siap membahas barter tahanan, gencatan senjata, dan bantuan kemanusiaan.

    Rusia, salah satu sekutu dekat Suriah, Rabu, 22 Januari 2014, mengatakan kelompok oposisi berjanji memulai pembicaraan langsung, meskipun ada ketakutan terjadi kebuntuan atas nasib Presiden Bashar al-Assad.

    "Pertemuan di Swiss ini akan membahas solusi politik guna mengakhiri perang saudara Suriah yang telah menewaskan lebih dari 130 ribu orang dan menyebabkan jutaan orang kehilangan tempat tinggal," ucap utusan Rusia.

    Amerika Serikat dan oposisi dalam konferensi tersebut mengatakan, Assad telah kehilangan legitimasinya ketika dia membabat habis gerakan unjuk rasa damai terhadap dia dan pemerintahannya.

    "Kami benar-benar ingin kesepakatan itu terwujud," kata Menteri Luar Negeri AS John Kerry. "Tidak ada jalan lain. Mungkin ada jalan hanya dalam imajinasi bagi pria yang memimpin (negara) dengan cara brutal. Maka, dia harus bertanggung jawab terhadap rakyat yang memberinya kepercayaan memimpin pemerintahan. Seorang pria dan para pendukungnya sudah tidak bisa lagi menahan dan menyandera bangsa."

    Menanggapi pernyataan tesebut, Suriah tetap bertahan terhadap pemerintahan sekarang. "Tidak ada pengalihan kekuasaan dan Presiden Bashar al-Assad masih memegang pemerintahan," kata Menteri Informasi Suriah Omran al-Zoabi kepada wartawan.

    Para utusan Barat kaget dengan nada agresif Menteri Luar Negeri Suriah Walid al-Muallem pada konferensi perdamaian yang digagas PBB di Montreux, Swiss. Mereka takut perundingan damai tidak berlanjut, sehingga konflik di lapangan bakal berlangsung terus.

    Meskipun demikian, utusan khusus PBB untuk Suriah, Lakhdar Brahimi, memberikan sinyal bahwa kedua pihak yang berseteru siap bergerak (berundinga) di luar retorika mereka.

    "Kami telah memperoleh indikasi yang jelas bahwa mereka yang berseteru ingin memiliki akses ke masyarakat, pembebasan tahanan, dan genjatan senjata lokal," kata Brahimi dalam jumpa pers, Rabu, 22 Januari 2014.

    Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengatakan juga kepada wartawan bahwa dia telah mendesak pemerintahan Suriah agar segera membebaskan tahanan sebagai wujud membagun saling percaya.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Berita lain:
    Megawati Mengaku Sering 'Nonjok' Kiemas 
    Apa Kata Megawati Soal Hubungannya dengan SBY? 
    Benarkah Tenda SBY di Sinabung Rp 15 Miliar?
    BlackBerry Diborong Pentagon, Saham Melonjak
    Hengkang ke MU, Hari Ini Mata Jalani Tes Medis  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.