Rusia Usir Jurnalis AS Tanpa Memberi Penjelasan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Anti Kekerasan (AJAK) berunjuk rasa

    Sejumlah wartawan yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Anti Kekerasan (AJAK) berunjuk rasa "Stop Kekerasan terhadap Jurnalis" di depan monumen Chairil Anwar, Kayutangan, Malang, Jawa Timur, (26-11). TEMPO/STR/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Moskow - Pemerintah Rusia mengusir wartawan Amerika Serikat yang bertugas di Moskow tanpa memberikan alasan. Ini adalah pengusiran jurnalis AS pertama kalinya setelah perang dingin berakhir dan diprediksi bakal mengganggu hubungan Moskow dan Washington.

    David Satter, mantan koresponden Financial Times dan penulis buku soal Rusia, diberitahu pada Hari Natal tahun lalu bahwa ia telah dilarang di negara itu. Satter berbasis di ibukota Rusia sejak September 2013 lalu.

    Informasi pengusiran ini diketahuinya bulan lalu. Saat itu Satter melakukan perjalanan ke ibukota Ukraina, Kiev, untuk memperbaharui visanya di Rusia. Saat itulah, Alexy Gruby, seorang diplomat di kedutaan Rusia membacakan pernyataan yang sudah disiapkan yang isinya mengatakan: "Badan yang punya otoritas telah memutuskan bahwa kehadiran Anda di wilayah Federasi Rusia tidak diinginkan. Anda dilarang memasuki Rusia." Badan yang punya otoritas yang dimaksud Gruby adalah Federal Security Service (FSB), badan mata-mata dan kontra-intelijen Rusia.

    Duta besar AS di Moskow, Michael McFaul, mengangkat kasus ini kepada wakil menteri luar negeri Rusia, Sergei Rybakov, tak lama setelah penolakan terhadap Satter. Setelah pengusiran Satter, Kedutaan AS mengeluarkan protes diplomatik dan meminta penjelasan. Pihak berwenang Rusia menolak memberikan penjelasan apapun soal itu.

    Sejak 2009, pemerintahan Obama telah menerapkan kebijakan pragmatis dalam hubungannya dengan Kremlin. Para kritikus menyebut kebijakan itu membawa sedikit hasil positif dalam hubungan dua negara.

    Pengusiran Satter ini cukup mengejutkan karena terjadi tak lama setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memberikan amnesti kepada sejumlah tahanan politik, termasuk konglomerat Mikhail Khodorkovsky, aktivis Greenpeace Arctic 30 dan dua anggota band punk feminis Pussy Riot.

    Langkah ini secara luas dilihat sebagai upaya untuk meningkatkan citra Rusia menjelang Olimpiade Sochi, yang akan dimulai pada 7 Februari 2014. Sebelumnya, Satter menulis sejumlah buku yang dianggap mengkritik negara yang dulunya bernama Uni Sovyet itu.

    Pengusiran koresponden Barat adalah ciri umum dari era perang dingin. Kremlin mengusir sejumlah wartawan Amerika pada 1960-an, 1970-an, dan 1980-an. Jurnalis terakhir yang diusir sepihak dari Rusia adalah kepala biro Newsweek Andrei Nagorski, tahun 1982 lalu.

    Di bawah Putin, FSB kembali menggunakan metode yang dulu pernah dilakukan KGB, yaitu menekan wartawan asing dengan menggeledah apartemennya, membuntuti dan menginterogasinya. Meski banyak tidak diberitakan, FSB banyak menolak aplikasi visa dari akademisi Barat yang ingin mengunjungi Rusia jika publikasi mereka dianggap bernada bermusuhan.

    Berbicara kepada Guardian dari London, Satter, 66 tahun, mengatakan: "Posisi saya adalah bahwa larangan ini harus segera dicabut." Dia mengatakan, pengusiran tanpa penjelasan seperti ini mengisyaratkan bahwa badan intelijen Rusia menganggapnya sebagai berbahaya dan merupakan ancaman.

    Guardian | Abdul Manan 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.