Serangan WTC, Polisi AS Palsukan Kondisi Mentalnya  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim pemadam kebakaran di St Cortlandt betugas dengan latar kerangka menara kembar WTC yang telah lebur oleh serangan 11 September 2001. AP/Mark Lennihan

    Tim pemadam kebakaran di St Cortlandt betugas dengan latar kerangka menara kembar WTC yang telah lebur oleh serangan 11 September 2001. AP/Mark Lennihan

    TEMPO.CO, New York — Sekitar 100 polisi dan petugas pemadam kebakaran Kota New York, Amerika Serikat, ditangkap dalam penyelidikan penipuan bantuan tragedi 11 September 2001. Menurut Kejaksaan New York, 72 polisi, delapan petugas pemadam kebakaran, dan lima petugas provos didakwa karena sengaja memalsukan kondisi kesehatan dan kejiwaan mereka supaya memperoleh bantuan setelah tragedi yang menewaskan banyak polisi dan pemadam kebakaran itu.

    Nilai bantuan yang digelapkan pun mencapai ratusan juta dolar. “Mereka sengaja menyatakan diri mengalami gangguan mental meski ternyata tidak. Penipuan ini mencoreng kenangan kami terhadap para pahlawan yang mengorbankan nyawa dalam tragedi 11 September,” kata Jaksa Distrik Manhattan Cyrus Vance, Selasa waktu setempat.

    Seperti dilansir AP, Rabu, 8 Januari 2014, pengadilan memanggil empat terdakwa yang dianggap sebagai otak komplotan itu. Mereka selama dua dekade mengajarkan para petugas untuk memalsukan kondisi depresi atau gangguan mental lain sehingga memperoleh kompensasi dari pemerintah federal sebesar US$ 500 ribu per orang. Jika berhasil, keempat orang itu akan memperoleh bayaran hingga puluhan ribu dolar.

    Memang banyak terdakwa yang mengalami disabilitas fisik, tetapi tidak mengalami gangguan mental. Untuk memperoleh asuransi Social Security yang besar, mereka harus dinyatakan benar-benar tidak dapat bekerja, baik secara fisik maupun mental. Kepala Urusan Internal Charles Campisi mengakui banyak dari para petugas yang membesar-besarkan masalah.

    Salah seorang terdakwa mengaku tidak bisa lagi mengajar bela diri. Sedangkan seorang bekas polisi mengaku tidak bisa meninggalkan rumah. Bahkan seorang terdakwa lainnya mengaku sangat depresi sehingga tidak bisa ke luar rumah. Tapi dia tertangkap basah sedang bermain di sebuah wahana air. Sejumlah terdakwa mengaku tak bisa menggunakan komputer, tetapi terbukti punya akun Facebook, Twitter, dan YouTube yang tetap berjalan aktif.

    AP | BBC | SITA PLANASARI AQUADINI

    Berita Lain:
    Main Petak Umpet, Bocah Ini Nyangkut di Mesin Cuci
    Wartawan Ini Jadi 'Pengemis' di Internet
    Jadi Badut, Lalu Menculik


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    OTT Bupati Kolaka Timur, Simak Fakta Penangkapan dan Profil Andi Merya

    Bupati Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara, Andi Merya Nur, ditangkap KPK dalam OTT. Ia diduga menerima suap yang berhubungan dengan dana hibah BNPB.