Mantan Menteri Lebanon Anti-Assad Tewas Dibom  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendukung kelompok Hizbullah berusaha memadamkan api yang menghanguskan sejumlah mobil dah bangunan akibat meledaknya bom mobil di Beirut, Lebanon, (16/8). (AP Photo/Hussein Malla)

    Pendukung kelompok Hizbullah berusaha memadamkan api yang menghanguskan sejumlah mobil dah bangunan akibat meledaknya bom mobil di Beirut, Lebanon, (16/8). (AP Photo/Hussein Malla)

    TEMPO.CO, Beirut - Bekas Menteri Libanon Mohamad Chatah, yang menentang Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan empat orang lainnya tewas dalam ledakan bom di mobilnya di Beirut, Jumat, 27 Desember 2013. Chatah, 62 tahun, adalah muslim Sunni yang aktif sebagai kritikus gerakan Syiah Hizbullah Libanon dan menjadi penasihat mantan Perdana Menteri Saad al-Hariri.

    Pada saat diserang, dia sedang dalam perjalanan menghadiri pertemuan di markas Hariri. "Kami mendengar ledakan besar serta melihat bola api dan asap tebal," kata seorang saksi mata, Hassan Akkawi, kepada Reuters.

    Penyerangan ini terjadi tiga minggu sebelum pendakwaan lima tersangka Hizbullah yang menewaskan mantan Perdana Menteri Rafik al-Hariri, ayah Saad, dan 21 orang pada Februari 2005. Hizbullah telah membantah terlibat dalam serangan itu. Namun, pada penyelidikan awal, PBB menemukan indikasi adanya keterlibatan pejabat Suriah .

    Ledakan itu telah mengakibatkan ketakutan di kalangan warga. Jalan-jalan di pusat kota lengang. Warga memilih di dalam rumah meski sedang libur Tahun Baru.

    Konflik di negara tetangga Suriah telah terpolarisasi ke Libanon dan tergeser sampai ketegangan sektarian. Hizbullah telah mengirimkan pejuang ke Suriah untuk berjuang bersama Assad, yang berasal dari sekte Alawite--sebuah cabang dari Syiah Islam heterodoks. Beberapa kelompok pemberontak Suriah Sunni yang terkait dengan Al-Qaidah, yang juga berusaha untuk menggulingkan Assad.

    Mantan Menteri Marwan Hamadeh, yang selamat dari bom mobil pada tahun 2004, mengatakan kepada televisi Al Arabiya: "Hizbullah tidak akan dapat memerintah Libanon, meski banyak darah yang tumpah."

    Iran, yang mendukung Hizbullah, diserang di Beirut bulan lalu. Dua bom bunuh diri mengguncang kompleks Kedutaan Iran di Libanon, dan menewaskan sedikitnya 25 orang termasuk atase kebudayaan Iran. Sebuah kelompok Libanon yang berafiliasi dengan Al-Qaidah, Brigade Abdullah Azzam, mengaku bertanggung jawab dan mengancam serangan lanjutan, kecuali Iran menarik pasukan dari Suriah.

    REUTERS | EKO ARI

    Berita lain:
    Cap Teroris Dituding Cara Mesir Habisi Al-Ikhwan 
    Erdogan Ganti Menteri dengan Loyalis 
    Bekas PM Bangladesh Jadi Tahanan Rumah? 
    Rusia Sebut Yasser Arafat Tidak Diracun
    Mesir Tangkapi Aktivis Ikhwanul Muslimin
    Survei: Warga AS Nilai Kongres Tak Becus 
    Diserang Ikan Aneh, 70 Warga Argentina Terluka
    8 Tentara Cad Tewas di Afrika Tengah  


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.