Ini yang Membuat Mandela Kagum pada Fidel Castro  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Fidel Castro bercanda dengan Nelson Mandela dalam pertemuan World Trade Organization di Jenewa, Swiss, 19 Mei 1998. AP/Keystone, Patrick Aviolat

    Fidel Castro bercanda dengan Nelson Mandela dalam pertemuan World Trade Organization di Jenewa, Swiss, 19 Mei 1998. AP/Keystone, Patrick Aviolat

    TEMPO.CO, Cape Town - Amerika Serikat melihat Nelson Mandela sebagai pahlawan dan Fidel Castro sebagai penjahat. Namun Mandela melihatnya dari sisi yang berbeda: menganggap Castro sebagai teman dan inspirator kebebasan.

    Menurut Huffington Post, Mandela mengagumi mantan diktator Kuba ini karena ia menentang apartheid dan mewakili aspirasi kaum nasionalis dari negara-negara dunia ketiga. Sikap nasionalistis dan anti-imperialis pemimpin Afrika Selatan ini memiliki banyak kesamaan dengan pemimpin Kuba tersebut.

    Sebaliknya, perjuangan Mandela juga mempengaruhi pergerakan di Amerika Selatan itu. Kemenangan Revolusi Kuba pada 1959 disebut-sebut terinspirasi oleh pidato-pidato Mandela.

    "Setiap sumber menarik bagi saya," tulis Mandela dalam otobiografinya pada 2008. "Saya membaca laporan Blas Roca, Sekretaris Jenderal Partai Komunitas Kuba, saat mereka dianggap sebagai organisasi ilegal selama rezim Batista. Saya membaca karya-karya oleh dan tentang Che Guevara, Mao Tse-tung, Fidel Castro."

    Kekaguman Mandela pada Castro bukan tak berdasar. Kuba di bawah Castro menentang apartheid dan mendukung Kongres Nasional Afrika --organisasi politik Mandela dan partai yang berkuasa saat ini. Intervensi militer Kuba ke Angola pada 1970-an dan 1980-an sangat berperan melemahkan pemerintah Afrika Selatan, menghasilkan legalisasi ANC pada 1990.

    Pemerintah AS, di sisi lain, dilaporkan memainkan peran dalam penangkapan Mandela tahun 1962 dan kemudian mencapnya teroris -sebutan yang mereka batalkan pada 2008. Pada 1986, Presiden Ronald Reagan memveto UU Anti-Apartheid.

    Mengingat sejarah ini, seharusnya tidak mengejutkan jika Mandela tetap kritis terhadap AS. Ketika pemerintahan George W. Bush mengumumkan rencana untuk menginvasi Irak pada 2003, Mandela menunjukkan penentangannya. "Jika ada negara yang melakukan kekejaman yang tak terkatakan di dunia, itu adalah Amerika Serikat. Mereka tidak peduli," katanya.

    Tak lama setelah pembebasannya sebagai tahanan politik pada 1990, Mandela mengunjungi Kuba untuk mengekspresikan rasa terima kasihnya. Ia menyebut Revolusi Castro sebagai "sumber inspirasi bagi semua orang yang mencintai kebebasan."

    "Kami mengagumi pengorbanan rakyat Kuba dalam mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan mereka dalam menghadapi setan, kampanye yang diatur oleh kaum imperialis," kata Mandela selama kunjungan itu, seperti dikutip Los Angeles Times. "Kami juga ingin mengontrol nasib kami sendiri."

    Ia juga meminta Castro untuk mengunjungi Afrika Selatan. Castro memenuhi undangan Mandela pada 1994 untuk menghadiri pelantikan Mandela sebagai presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan.

    Castro dan Mandela melanjutkan hubungan mereka hingga Mandela tak lagi menjabat sebagai presiden tahun 1999. Mandela mengatakan, ia tidak akan membalikkan punggungnya bagi orang-orang yang sama-sama menentang apartheid.

    HUFFINGTON POST | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.