Di Bandung, Mandela Mencari Bung Karno

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nelson Mandela di kantor frima hukumnya di Johannesburg pada tahun 1952. Mandela, bersama Oliver Tambo, membuka firma hukum kulit hitam pertama di Afrika Selatan . AP/Jurgen Schadeberg

    Nelson Mandela di kantor frima hukumnya di Johannesburg pada tahun 1952. Mandela, bersama Oliver Tambo, membuka firma hukum kulit hitam pertama di Afrika Selatan . AP/Jurgen Schadeberg

    TEMPO.CO, Jakarta - Dua dekade lalu, mendiang Nelson Mandela rupanya pernah berkunjung ke Gedung Asia Afrika di Bandung. Saat itu, kata Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Sidarto Danusubroto, Mandela bertanya mengapa tak ada satu pun foto Bung Karno.

    "Where is the picture of Soekarno? Every leaders from Asia and Africa came to Bandung because of Soekarno," ujar Sidarto, mengutip Mandela, saat dihubungi Tempo, Sabtu, 7 Desember 2013.

    Menurut Sidarto, itulah pengalamannya yang tak terlupakan saat menemani presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan, Nelson Mandela, ketika menyambangi Bandung tahun 1990. Sidarto, yang saat itu menjabat Kepala Kepolisian Daerah dan Panglima Daerah Militer Siliwangi Yogie Suardi Memet hanya diam bergeming, tak bisa menjawab. Mereka saling memandang, tak tahu berkata apa karena tak mungkin memasang foto Soekarno di gedung itu.

    Pasalnya, rezim Soeharto yang di masa itu berkuasa memang mempreteli semua hal yang berbau Soekarno. Bukannya foto Soekarno yang dipajang, gambar yang ada malah Ali Sastroamidjojo dan Roeslan Abdulgani sebagai pejabat yang terlibat mengurus Konferensi Asia Afrika.

    Mandela ternyata pengagum Bung Karno. Menurut Mandela, kutip Sidarto, Soekarno bukan hanya milik Indonesia tetapi juga dunia. Pidato Soekarno di pembukaan Konferensi Asia Afrika mampu mengobarkan semangat untuk terbebas dari penjajahan.

    Sidarto mengatakan pertemuan pertama antara Mandela dengan Soekarno terjadi pada tahun 1955. Soekarno mengundang Mandela muda dan teman-temannya untuk hadir di Konfrensi Asia Afrika meski tokoh Afrika Selatan itu dianggap kelas nomor dua di negaranya. Mandela yang saat itu sedang menuntut persamaan hak antara warga kulit hitam dan kulit putih di Afrika Selatan semakin tersulut semangatnya untuk memerdekakan rakyat dari penjajahan Inggris.

    "Mandela merasa diuwongke (dianggap setara)," kata Sidarto yang juga politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu. Ia pun menyatakan kagum kepada perjuangan Mandela, dan akan menanyakan hal yang sama seandainya tak menemukan foto Mandela di Afrika Selatan.

    SUNDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.