Dorling: Australia Sudah Lama Mata-matai Indonesia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemimpin ekonomi Indonesia Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menerima pemimpin ekonomi Australia Perdana Menteri Tonny Abbot sebelum 'ABAC Dialogue With Leaders' KTT APEC 2013 di Nusa Dua, Bali, Senin (7/10). ANTARA/Prasetyo Utomo

    Pemimpin ekonomi Indonesia Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (kanan) menerima pemimpin ekonomi Australia Perdana Menteri Tonny Abbot sebelum 'ABAC Dialogue With Leaders' KTT APEC 2013 di Nusa Dua, Bali, Senin (7/10). ANTARA/Prasetyo Utomo

    TEMPO.CO, Canberra -  Philip Dorling, penulis dan koresponden Canberra Times, mengaku tak heran mendengar kabar bahwa Australia menggunakan kedutaan besarnya di luar negeri, termasuk di Jakarta, untuk melakukan penyadapan telepon dan pengumpulan informasi rahasia. "Australia telah lama memata-matai tetangga kita, khususnya Indonesia, dan kita telah lama berusaha untuk mengambil keuntungan dari itu dalam diplomasi kita," kata Dorling, seperti ditulis dalam kolomnya di Sydney Morning Herald, Kamis, 31 Oktober 2013.

    Menurut Dorling, Kedutaan Besar Australia di Jakarta adalah pos luar negeri pertama Badan Intelijen Australia. Berdasarkan informasi dari buku harian yang diterbitkan diplomat senior Australia diketahui bahwa Australian Defence Signals Bureau, yang kini menjadi Defence Signals Directorate, rutin membaca kabel diplomatik Indonesia sejak pertengahan 1950-an dan sesudahnya.

    Aksi spionase Australia dimulai dengan kerja sama erat dengan intelijen Inggris Secret Intelligence Service (SIS), atau yang lebih akrab dikenal dengan MI6, dan Government Communication Headquarter (GCHQ). Seiring berjalannya waktu, Intelijen Australia juga berkolaborasi dengan badan intelijen Amerika Serikat Central Intelligence Agency (CIA) dan National Security Agency (NSA)."Dan kami tidak pernah berhenti memata-matai," kata Dorling.

    Ia menyebut soal bocornya laporan sangat rahasia dari intelijen pertahanan soal Indonesia dan Timor Timur tahun 1999. Bocoran itu menunjukkan bahwa intelijen Australia memiliki akses yang luas atas komunikasi militer dan sipil Indonesia. "Pembakaran Dili oleh milisi dan militer Indonesia pada September 1999 tak mengejutkan bagi intelijen Australia," kata Dorling.

    SYDNEY MORNING HERLAD | ABDUL MANAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Realitas Versus Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia

    Laporan Data Statistik Perkebunan Indonesia 2017-2019 mencatat luas area perkebunan 2016 mencapai 11,2 juta hektare. Namun realitas berkata lain.