Kepala MI5: Info Snowden 'Kado' bagi Teroris  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pembocor data intelijen Amerika Edward Snowden menunduk saat mengadakan pertemuan tertutup dengan beberapa aktivis HAM dan pejabat negara di bandara Moskow, Rusia (12/7).  Ia sudah terjebak di zona transit bandara ini sejak 23 Juni. (AP Photo/Human Rights Watch, Tanya Lokshina)

    Pembocor data intelijen Amerika Edward Snowden menunduk saat mengadakan pertemuan tertutup dengan beberapa aktivis HAM dan pejabat negara di bandara Moskow, Rusia (12/7). Ia sudah terjebak di zona transit bandara ini sejak 23 Juni. (AP Photo/Human Rights Watch, Tanya Lokshina)

    TEMPO.CO, London - Pembocoran rahasia oleh Edward Snowden, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA), tak hanya membahayakan keamanan dalam negeri AS tapi juga dunia. Hal ini diungkapkan bos Dinas Rahasia Inggris (MI5), Andrew Parker. "Dia memberi kelompok teroris seperti Al-Qaeda 'hadiah' yang mereka butuhkan untuk menghindari kami dan serangan yang akan kami lakukan," katanya.

    Parker mengatakan, informasi yang diberikan oleh Snowden, yang antara lain untuk surat kabar Inggris The Guardian, merupakan ancaman khusus bagi aparat keamanan di mana pun yang berjuang membendung aksi terorisme. "Di dalamnya berisi rincian kemampuan kita untuk melawan mereka, dan semua diberikan gratis pada mereka," katanya.

    Berbicara di Royal United Services Institute, London, Parker menunjukkan statistik dari ancaman terorisme yang dihadapi oleh Inggris. Fakta yang kasat mata, kata dia, adalah bahwa sejak 11 September 2001 sampai akhir Maret tahun ini, 330 orang telah dikirim ke penjara karena terkait aksi terorisme. "Setiap tahun berhasil digagalkan sekali atau dua kali aksi teroris dalam skala masif," tambahnya.

    Snowden, kini tinggal di Rusia, mengklaim bahwa dia telah menyebarluaskan sebanyak 58 ribu informasi rahasia, antara lain yang mengekspos pengawasan rahasia oleh negara atas publik AS. Dinas intelijen AS dan Inggris sama-sama membantah bahwa kebocoran informasi ini merupakan bagian dari kepentingan publik, dan sebaliknya menyebut informasi itu 'menyediakan sebuah buku pegangan bagi teroris untuk menghindari deteksi'.

    "Undang-undang mengharuskan bahwa kami hanya mengumpulkan dan mengakses informasi yang kita benar-benar perlukan untuk melaksanakan tugas kami. Namun publik samar-samar menerjemahkannya bahwa kami memantau semua orang dan semua komunikasi mereka, browsing sesuka hati tentang kehidupan pribadi publik untuk apa pun yang terlihat menarik. Itu semua omong kosong," katanya.

    Ia menyatakan, mencari tahu seorang individu tidak sama dengan mengetahui segala sesuatu tentang mereka. "Berada dalam pengawasan radar kami tidak selalu berarti berada di bawah 'mikroskop' kami. Realitas kerja intelijen dalam prakteknya adalah bahwa kita hanya fokus pada pengganggu paling intens pada sejumlah kecil kasus," katanya.



    INDEPENDENT | TRIP B

    Berita populer
    Inilah Sebagian Gurita Bisnis Adik Ratu Atut
    Kecurangan Akil Mochtar di Pilkada Mulai Diungkap
    Jawara, Ulama, dan Golkar dalam Dinasti Ratu Atut
    Adik Prabowo Tolak Rp 500 Miliar dari Jokowi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.