Tweet Netanyahu Soal 'Jabat Tangan' AS-Iran  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. REUTERS/Ammar Awad

    Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. REUTERS/Ammar Awad

    TEMPO.CO, Tel Aviv -- Israel rupanya masih geram dengan kehangatan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, berusaha menggembosi semangat baru diplomasi yang berkembang di antara kedua negara itu. Setidaknya, itulah yang tercermin dalam sebuah posting yang muncul di akun Twitter-nya.

    Entah ditulisnya sendiri atau oleh stafnya, tweet dari akun @netanyahu yang muncul berbarengan dengan perjalanannya ke Amerika itu mengingatkan bahaya mulut manis dan senyum kepalsuan. "Yang satu harus bicara fakta dan satunya lagi harus bicara tentang kebenaran," tulisnya tertanggal 29 September 2013 lalu.

    Netanyahu tidak secara terbuka mengomentari tanda-tanda mencairnya ketegangan hubungan AS-Iran setelah Obama menelepon Presiden Iran Hassan Rohani, Jumat pekan lalu. Ia juga tak menyebut nama dalam tweet-nya. Namun dari apa yang dilontarkannya, semua mahfum bahwa tweet itu menunjuk ke sekutu dan salah satu musuh utamanya tersebut.

    Amerika dan sekutunya disebut-sebut mengantongi sejumlah bukti terkait program nuklir Iran. Namun Iran berkeras bahwa program nuklirnya bukan untuk tujuan militer, hal yang diyakini Barat sebagai dusta belaka.

    Israel selama ini mengaku mengantongi data soal program nuklir Iran. Sumber di pemerintahan Israel menyatakan di bawah tanah reaktor Natanz, uranium diperkaya sampai 3,5 persen, dan di reaktor lain, Fordow yang selalu dijaga ketat, pengayaan uranium bahkan mencapai hingga 20 persen, cukup untuk membuat senjata nuklir.

    "Netanyahu telah mengumpulkan sejumlah data terkait program nuklir Iran sebelum bertolak ke Washington," tulis Shimon Shiffer di harian Israel Yedioth Ahronoth. "Dia bermaksud untuk berbagi informasi ini dengan Obama," katanya.

    TIME | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.