Pemberontak Suriah Tolak Koalisi Nasional  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang tentara pembebasan Suriah wanita yang tergabung dalam kesatuan

    Seorang tentara pembebasan Suriah wanita yang tergabung dalam kesatuan "Mother Aisha" menerima instruksi saat menembakkan senjata pada latihan militer di Aleppo, Suriah (19/9). REUTERS/Loubna Mrie

    TEMPO.CO, Damaskus - Salah satu kelompok pemberontak paling berpengaruh di Suriah mengatakan mereka tidak mengakui kelompok oposisi berbasis di luar negeri, termasuk Koalisi Nasional Suriah.

    "Koalisi Nasional dan proposal pemerintah yang disampaikan oleh Ahmad Tomeh tidak mewakili kami sehingga kami tak perlu mengakuinya," ujar Kelompok Pemberontak 13, sebuah kelompok paling berpengaruh di Suriah, dalam pernyataan gabungan pada Selasa, 24 September 2013.

    Di antara kelompok pemberontak yang menjadi anggota Tentara Pembebasan Suriah adalah Liwa al-Tawhid. Pemberontak ini berkuasa di sebelah utara Provinsi Aleppo dan Jabhat al-Nusra, memilik hubungan dengan al-Qaeda.

    Dewan Keamanan PBB telah memasukkan Front al-Nusra ke dalam daftar hitam teroris lantaran hubungannya dengan al-Qaeda di Irak pada Mei 2013. Sementara Amerika Serikat menyebut kelompok ini sebagai organisasi teroris pada Desember 2012.

    Pemberontak lainnya di Suriah yang menolak Koalisi Nasional adalah Ahrar al-Sham. Dalam pernyataannya kepada media, kelompok ini menerapkan hukum Islam di Suriah.

    "Kami menyerukan kepada seluruh anggota militer dan warga sipil untuk bersatu berdasarkan hukum Islam," tulis pernyataan tersebut.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Berita Terpopuler
    Serangan pada Ruhut, dari Badut Sampai Kumpul Kebo
    Ruhut Gagal Dilantik sebagai Ketua Komisi Hukum 
    Jadi Rebutan Klub, Kiper Ravi Pilih Timnas U-19
    Capres, Duet Jokowi-JK Terpopuler di Dunia Maya
    Kenapa Dirut TVRI Dipecat?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.