Khatami: Ini Peluang Langka Pemulihan Iran-Barat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden baru Iran, Hasan Rouhani melambaikan tangan setelah upacara pengambilan sumpah di gedung parlemen, di Teheran, Iran, Minggu (4/8). Rouhani menyerukan kepada negara Barat untuk menghilangkan sanksi kepada negaranya atas program nuklir yang kontroversial, untuk meringankan beban ekonomi warga Iran. AP/Ebrahim Noroozi

    Presiden baru Iran, Hasan Rouhani melambaikan tangan setelah upacara pengambilan sumpah di gedung parlemen, di Teheran, Iran, Minggu (4/8). Rouhani menyerukan kepada negara Barat untuk menghilangkan sanksi kepada negaranya atas program nuklir yang kontroversial, untuk meringankan beban ekonomi warga Iran. AP/Ebrahim Noroozi

    TEMPO.CO, Tehran -  Pemimpin reformis Iran, Mohammad Khatami, mendesak Barat untuk menunjukkan keberanian dan kerjasamanya dengan Presiden Hassan Rouhani atau berisiko kehilangan kesempatan yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk mengakhiri kebuntuan saat ini.

    Dalam sebuah artikel yang diterbitkan dalam Guardian 23 September 2013, Khatami, mantan presiden Iran, mengatakan bahwa ulama moderat itu memiliki "otoritas yang diperlukan " untuk membuat resolusi diplomatik atas perbedaan lama antara Teheran dan negara barat, paling tidak dalam masalah nuklir. 

    Menurut Khatami, Rouhani menikmati dukungan dari semua lapisan masyarakat Iran dalam upaya untuk mengejar "keterlibatan yang konstruktif" dengan barat, termasuk dari pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Khatami menilai sang Ayatullah menunjukkan sikap lunak dalam pandangannya tentang diplomasi baru-baru ini.

    Berbicara sebelum meninggalkan Teheran menuju New York, AS, untuk mengikuti sidang Majelis Umum PBB, Rouhani berjanji untuk mengubah citra Iran yang menurutnya telah terdistorsi. Dia menyalahkan pendahulunya, Mahmoud Ahmadinejad, yang menyampaikan sikap anti-Barat setiap kali ia berbicara di forum PBB.

    Rouhani dijadwalkan untuk menyampaikan pidatonya beberapa jam setelah Presiden AS Barack Obama memberikan pernyataan sambutan, Selasa 24 September 2013, waktu setempat. Rouhani dan Obama juga diduga akan melakukan pertemuan, yang jika ini terjadi merupakan tatap muka pertama antara pemimpin kedua negara sejak lebih dari tiga puluh tahun lalu. 

    Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton, yang bertemu Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif Senin 23 September 2013 di New York, berbicara tentang program nuklir negara itu. Ashton menggambarkan suasana diskusinya dengan Zarif 'konstruktif'. Menurut Ashton, Zarif dan Menteri Luar Negeri AS John Kerry dijadwalkan bertemu pada hari Kamis 26 september 2013, yang akan menjadi pembicaraan tingkat menteri pertama antara Teheran dan Washington sejak revolusi Islam tahun 1979.

    Menlu Inggris, William Hague, bertemu Zarif untuk pertama kalinya pada Senin 23 September 2013 malam dan membahas masalah nuklir dan Suriah. Mereka juga berbicara tentang prospek pemulihan hubungan diplomatik penuh antara Inggris dan Iran, yang rusak parah ketika Kedutaan Besar Inggris di Teheran diambilalih massa pada November 2011. Hague secara jelas meminta jaminan Teheran bahwa diplomatnya dapat beroperasi dengan aman sebagai syarat untuk dibukanya kembali misi diplomatik Inggris di sana. "Kami tidak menginginkan hubungan konfrontatif dengan Iran," kata Hague setelah pertemuan dengan Zarif.

    "Kami telah membahas bagaimana meningkatkan hubungan bilateral kami, tapi itu harus dilakukan secara bertahap. Saya kira kita sepakat dalam hal ini. Jadi kami telah meminta para pejabat untuk menangani tugas ini. Tujuan utama Inggris adalah bagaimana kedutaan di Teheran dapat beroperasi lagi, dan kita harus tahu bahwa kedutaan bisa melakukan semua fungsinya secara normal tanpa gangguan dan kesulitan seperti yang dihadapi sebelumnya," kata Hague.

    Para pejabat Inggris mengatakan, tidak ada pertemuan lebih lanjut yang telah dijadwalkan, tetapi diplomat Inggris dan Iran akan bertemu dalam beberapa minggu mendatang untuk membahas bagaimana membangun kembali kepercayaan mereka pada niat Tehran.

    Dalam sebuah langkah lebih lanjut untuk meningkatkan kredibilitas Rouhani di PBB, Khamenei pada hari Senin 23 September 2013 mengumumkan amnesti untuk 80 tahanan politik, termasuk mereka yang ditangkap pasca pemilu 2009 yang disengketakan.

    Intervensi Khatami datang ketika 500 intelektual dan aktivis terkemuka Iran menulis surat kepada Obama, dan mengatakan saatnya presiden Amerika untuk membalas niat baik Tehran.

    Penandatangan surat -yang juga diterbitkan secara eksklusif oleh Guardian- termasuk sutradara film pemenang Oscar Asghar Farhadi, tokoh reformis yang dipenjara Mostafa Tajzadeh dan intelektual terkemuka Saeed Hajjarian.

    "Orang-orang Iran mengambil kesempatan untuk memilih Hassan Rouhani ... sebagai hasilnya, kami telah menyaksikan pembebasan beberapa tahanan politik dan kemajuan relatif dalam atmosfer publik dan politik negara itu," kata surat itu .

    "Sekarang giliran Anda, dan masyarakat internasional, untuk membalas niat baik Iran dan mengejar strategi jalan tengah yang meliputi pencabutan sanksi ekonomi yang tidak adil terhadap Iran."

    Setidaknya 88 dari penandatangan surat itu adalah mantan tahanan politik saat ini, beberapa masih menjalani hukuman penjara. Mohammadreza Jalaeipour, mantan tahanan politik yang berada di balik pembuatan surat itu, mengatakan, jika Rouhani bertemu Obama, itu akan membuka jalan bagi perubahan positif dalam suasana politik dalam negeri Iran.

    Di bawah pemerintahan Khatami antara tahun 1997 dan 2005, Iran membuka pintu kepada Barat, bahkan membantu pasukan Amerika di Afganistan. Namun Amerika di bawah George W. Bush tetap memberinya cap Iran sebagai bagian dari "Poros Kejahatan", bersama dengan Irak dan Korea Utara. 

    Dalam artikelnya di Guardian, Khatami memperingatkan bahwa kesalahan diplomatik saat ini akan memiliki konsekuensi panjang. "Kegagalan saat ini untuk menciptakan suasana kepercayaan dan dialog yang bermakna hanya akan lebih meningkatkan kekuatan ekstremis di semua sisi. Konsekuensi dari kegagalan tersebut tidak hanya terhadap kawasan, tapi secara global," tulis Khatami. "Untuk dunia yang lebih baik, tidak hanya untuk rakyat Iran tetapi untuk generasi berikutnya di seluruh dunia, saya sungguh-sungguh berharap bahwa Presiden Rouhani akan menerima sambutan hangat dan bermakna selama kunjungannya ke PBB."

    Sadeq Zibakalam, seorang profesor di Universitas Teheran dan salah satu penandatangan surat itu, mengatakan, faksi-faksi yang berbeda di dalam elite Iran, termasuk dari kalangan fundamentalis, telah sampai pada kesimpulan bahwa Iran membutuhkan pendekatan dengan AS. "Mereka menyadari bahwa tanpa ini, mereka tidak bisa membawa perubahan atas situasi mengerikan Iran saat ini, terutama dalam soal ekonomi."

    Zibakalam memperingatkan bahwa jika Rouhani gagal untuk terlibat dengan AS, maka "posisinya di Iran akan secara signifikan melemah" dan ia akan menjalani masa-masa yang sulit dalam empat tahun ke depan pemerintahannya.

    Mata uang Iran secara signifikan pulih terhadap dolar pada Senin 23 September 2013, naik ke nilai terkuat dalam beberapa bulan ini. Jajak pendapat oleh organisasi sipil Avaaz juga menunjukkan dukungan yang kuat, baik di AS dan di Iran, untuk peningkatan hubungan bilateral. Hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa 74 persen orang Amerika dan 80 persen rakyat Iran mendukung adanya pembicaraan langsung dua negara.

    Guardian | Abdul Manan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menimbun Kalori Kue Lebaran, seperti Nastar dan Kastengel

    Dua kue favorit masyarakat Indonesia saat lebaran adalah nastar dan kastangel. Waspada, dua kue itu punya tinggi kalori. Bagaimana kue-kue lain?