Mugabe Kembali Pimpin Zimbabwe

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta:Robert Mugabe kembali menjabat presiden Zimbabwe untuk kelima kalinya dalam masa enam tahun mendatang, setelah memenangkan pemilihan presiden yang paling ketat dalam sejarah negara tersebut, Rabu (13/3) waktu setempat. Pemilihan ini berlangsung di tengah persaingannya dengan kekuatan oposisi, ketidakstabilan negara, dan kekerasan. Hasil pemeilihan yang disiarkan oleh radio pemerintah menunjukkan kemenangan Mugabe atas pemimpin partai buruh, Morgan Tsvangirai. Berdasarkan hasil pendahuluan, Mugabe meraih 54 persen suara atau 1,685,212 suara, Tsvangirai meraih 40 persen suara atau 1,258,401. “Ada 3,130,913 suara yang sah dari 5,647,812 pemilih yang terdaftar,” kata Tobaiwa Mudede, pejabat pemilu setempat. Menurut Mudede, hasil pemilihan tersebut menunjuk Robert Gabrielle Mugabe meraih suara mayoritas kelima kalinya dalam pemilihan presiden di negara tersebut. Menteri Kehakiman Zimbabwe, Patrick Chinamasa, menggambarkan pemilihan ini seperti sebuah "runaway victory". Tapi pihak oposisi, Gerakan untuk Perubahan Demokrasi (Movement for Democratic Change) menolak hasil ini. "Ini pemilihan penuh keculasan besar yang pernah aku saksikan seumur hidupku,” kata Tsvangirai. Dia mengatakan hasil ini adalah kulminasi dari kekerasan sepanjang dua tahun terakhir yang didalangi pihak kepolisian. “Pemilihan ini tidak merefleksikan keinginan rakyat yang sebenarnya dan hasil ini tidak sah di mata mereka,” gugat dia. Usai pengumuman ini pihak keamanan Zimbabwe bersiaga penuh untuk mengamankan hasil pemilihan, dari berbagai kerusuhan yang diprediksikan bakal merebak. Menteri Luar Negeri Zimbabwe, Jack Straw, menggambarkan hasil ini tidak mengejutkan karena sebelumnya telah ada kampanye sistematis berupa kekerasan dan intimidasi untuk melanggengkan kekuasaan Mugabe. Hasil ini menurut Straw, tengah dikonsultasikan dengan Uni Eropa, pemerintah Inggris, Amerika Serikat, dan Negara Persemakmuran, untuk mengambilkan langkah berikutnya. “Jika Presiden Mugabe memiliki kepercayaan penuh, dia akan memerintahkan polisi memadam kan kerusuhan,” ujar Straw sambil menambahkan Mugabe akan memerikan keterangan mengenai hasil pemilihan ini kepada parlemen, Kamis besok. Beberapa pengamat independen mempertanyakan validitas hasil tersebut, karena pemilihan presiden dilakukan di tengah berkecamuknya kekerasan, intimidasi, dan kebingungan dari ribuan pemilih di ibukota Harare. “Pemilihan presiden ini tidak memenuhi kriteria dari sebuah pemilihan presiden," kata Kare Vollan, seorang pengamat independen dari Norwegia. Vollan menambahkan, mereka menemukan kesalahan di setiap tahap proses tersebut, mulai dari pendaftaran pemilih, kampanye, hingga saat pemilihan. Sam Motsuenyane, ketua pengamat independen dari Afrika Selatan juga mencurigai hasil pemilihan itu, dengan menyebutkan “akan mempertimbangkan legitimasi dari pemenang.” Dari Washington dilaporkan, Menteri Luar Negeri AS, Colin Powell mengisyaratkan sebuah sanksi internasional ke negara tersebut. “Mugabe dapat saja mengklaim kemenangan dalam pemilihan presiden di Zimbabwe, tapi tidak memperoleh legitimasi demokrasi,” ujar Powell mengingatkan. Sedangkan Sekjen PBB, Kofi Annan meminta berbagai pihak di Zimbabwe tenang dan menahan diri, usai pemilihan presiden yang hasilnya dinilai para pengamat kontroversial. (Yura Syahrul - Tempo News Room/Guardian/AFP)

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.