Hari-hari Terakhir Presiden Mesir, Mohamed Morsi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dua wanita berfoto dengan bendera negara Mesir di depan lukisan grafiti Presiden Muhammad Mursi di tembok istana presiden di Kairo, Mesir (2/7). Sejumlah grafiti anti-Mursi digambar di beberapa sudut kota. (AP Photo/Hassan Ammar)

    Dua wanita berfoto dengan bendera negara Mesir di depan lukisan grafiti Presiden Muhammad Mursi di tembok istana presiden di Kairo, Mesir (2/7). Sejumlah grafiti anti-Mursi digambar di beberapa sudut kota. (AP Photo/Hassan Ammar)

    TEMPO.CO, Kairo - Para panglima militer datang ke Presiden Mohamed Morsi dengan permintaan sederhana: mundurlah dengan inisiatif sendiri. "Langkahi mayatku!" Itulah jawaban Morsi kepada Menteri Pertahanan yang juga Kepala Angkatan Bersenjata Mesir Jenderal Abdel Fatah al-Sisi, Senin, 1 Juli 2013, dua hari sebelum tentara akhirnya menggulingkannya.

    Pada akhirnya, presiden pertama Mesir yang dipilih secara demokratis itu menemukan dirinya terisolasi, ditinggalkan oleh sekutunya. Tidak ada dalam tentara atau polisi yang bersedia mendukungnya. Bahkan, pasukan pengawal Garda Republik melangkah pergi saat komandan tentara datang untuk menahannya ke fasilitas militer.

    Para pejabat Ikhwanul Muslimin mengatakan, mereka mulai melihat akhir nasib Morsi pada 23 Juni, seminggu sebelum oposisi merencanakan protes besar pertamanya. Saat itu militer memberi waktu tujuh hari kepada presiden untuk bekerja untuk mengatasi perbedaannya dengan oposisi.

    Dalam beberapa bulan terakhir, Morsi memang telah berseberangan dengan hampir seluruh institusi di Mesir, termasuk ulama terkemuka Muslim dan Kristen, hakim, angkatan bersenjata, polisi, dan badan intelijen. Lawan politiknya lantas memancing kemarahan rakyat karena menilai Mursi memberikan terlalu banyak kekuasaan kepada pengusungnya, Ikhwanul Muslimin dan kelompok Islamis lainnya, dan gagal untuk mengatasi meningkatnya masalah ekonomi Mesir.

    Ada ketidakpercayaan antara Morsi dan badan-badan keamanan negara itu sehingga mereka mulai menyembunyikan informasi dari dia. Misalnya, pengerahan pasukan dan kendaraan lapis baja di kota juga tanpa sepengetahuannya. Polisi juga bersikap sama, dan ini terbukti dari penolakan polisi untuk melindungi kantor Ikhwanul Muslimin saat diserang dalam gelombang protes anti-Morsi.

    Karena itu, ketika Morsi berjuang untuk kelangsungan kekuasaannya, tidak ada orang yang berpaling, kecuali meminta bantuan luar melalui duta besar negara Barat dan segelintir Ikhwanul Muslimin. Tapi, yang bisa dilakukan kolega Ikhwanul-nya sedikit, tak lebih dari membantunya merekam dua-menit terakhir pidatonya sebelum ia digulingkan.

    Dalam sambutan tersebut, ia tampak emosional menekankan legitimasi pemilunya. Ini juga kerap disampaikan Morsi berulang kali saat berbicara dengan al-Sisi.

    Awal Juni, selama dua pertemuan, Morsi, al-Sisi dan perdana menteri Hesham Kandil, duduk untuk membahas cara-cara keluar dari krisis. Tapi Morsi terus kembali menyatakan mandatnya karena ia menang dalam pemungutan suara Juni 2012, kata salah satu pejabat yang mengetahui pertemuan itu. Kata dia, Morsi tidak akan mengatasi protes massa atau dari masalah negara yang paling mendesak negara -lemahnya keamanan, kenaikan harga, pengangguran, pemadaman listrik dan kemacetan lalu lintas.

    Seorang juru bicara Ikhwanul Muslimin Murad Ali, mengatakan, militer telah memutuskan bahwa Morsi harus pergi, dan Sisi tidak mempertimbangkan salah satu konsesi yang siap diberikan Presiden. "Kami naif ... Kami tidak membayangkan pengkhianatan akan berlangsung sejauh ini," kata Ali.

    Para pejabat Ikhwanul Muslimin mengatakan, mereka melihat bahwa akhir dari kekuasaan kadernya itu akan datang. "Kami tahu itu lebih banyak pada 23 Juni. Duta Besar negara Barat mengatakan itu kepada kami," kata juru bicara Ikhwanul Muslimin lainnya. Duta Besar AS Anne Patterson adalah salah satu orang yang mengatakan soal itu.

    Morsi berusaha mencari sekutu di kalangan tentara, memerintahkan dua pembantunya -Asaad el-Sheikh dan Rifaah el-Tahtawy - untuk menjalin kontak dengan perwira yang bersimpati kepadanya di Angkatan Darat kedua yang berbasis di Port Said dan Ismailia di Terusan Suez. Tujuannya adalah untuk menemukan alat tawar-menawar yang bisa digunakan menghadapi Sisi, kata pejabat keamanan yang mengetahui langsung soal ini.

    Tidak ada tanda-tanda bahwa tawaran Morsi itu memiliki efek apapun. Al-Sisi mengetahui soal ini dari kontak-kontak militernya. Tak mau ambil risiko, dia mengeluarkan arahan kepada semua komandan satuan untuk tidak terlibat dalam kontak apapun dengan istana presiden. Sebagai pencegahan, ia mengirim pasukan elit untuk mengamankan unit militer yang komandannya telah dihubungi oleh pembantu Morsi itu.

    Di permukaan, Morsi ingin memberikan kesan bahwa pemerintahannya berjalan seperti biasa. Kantornya merilis pernyataan tentang pertemuan dengan menteri kabinet untuk membahas beberpa isu, seperti ketersediaan bahan makanan pokok selama bulan Ramadan. Dia sempat empat kali bericara bersama menteri kabinetnya dengan wartawan TV di istana presiden tentang kelangkaan bahan bakar dan pemadaman listrik.

    Pihak oposisi telah menetapkan protes massa pertama pada 30 Juni, ulang tahun pelantikannya sebagai presiden. Demonstrasi baru tahap awal, dan Morsi harus berhenti bekerja di istana Ittihadiya pada 26 Juni. Keesokan harinya, ia dan keluarganya pindah ke markas garda Republik di Kairo, cabang militer yang bertugas melindungi presiden.

    Morsi bekerja di Isatana Qasr El Qouba dan terus melakukannya sampai 30 Juni, ketika Garda Republik menyarankannya untuk tetap tinggal di markas mereka.

    Saat itu pembantu kebijakan luar negerinya, Essam el-Haddad, menelepon pemerintahan Barat untuk menyampaikan optimismenya bahwa situasi masih bisa dikendalikan. Haddad juga mengeluarkan pernyataan dalam bahasa Inggris kepada media asing, mengatakan bahwa jutaan orang yang keluar di jalan-jalan tidak mewakili semua orang Mesir.

    Menurut surat Al-Ahram, Morsi saat itu ditawari perjalanan yang aman ke Turki, Libya, atau di tempat lain, tapi ia menolak. Dia juga ditawari kekebalan dari penuntutan jika ia secara sukarela mengundurkan diri. Morsi memberikan pidato akhir pada Selasa, 2 Juli 2013, di mana ia bersumpah untuk tetap dalam posisinya dan mendesak pendukungnya untuk berjuang untuk melindungi legitimasinya.

    Segera setelah itu, Sisi menempatkan dia di bawah "kurungan" di markas Garda Republik. Hari berikutnya, Rabu 3 Juli 2013, batas waktu 48 jam yang diberikan militer untuk Morsi berakhir.

    Pada pukul 05:00, pasukan mulai menyebar ke seluruh kota besar dan militer memposting video pergerakan itu di halaman Facebooknya dalam upaya untuk meyakinkan publik. Pengawal Garda Republik yang ditugaskan untuk mengawal presiden dan para pembantunya melangkah pergi di tengah hari, lalu komando militer tiba.

    Tidak ada keributan dan Morsi pergi secara diam-diam ke markas Garda Republik, tempat ia akhirnya ditahan. Rabu (3/7/2013) malam, al-Sisi mengumumkan penggulingan Morsi dari kursi yang didudukinya baru setahun itu.

    Guardian | AP | Abdul Manan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Mengurus Pasien Covid-19 di Rumah

    Pasien positif Covid-19 yang hanya mempunyai gejala ringan dapat melakukan isolasi di rumah.