Tim Inspeksi : Alasan Invasi ke Irak Tak Terbukti

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Washington:Tim inspeksi senjata pemusnah massal Irak yang dibentuk Amerika Serikat resmi menyimpulkan Saddam Hussein sudah menghancurkan senjata kimia dan biologis sejak 1991. Padahal pemerintahan George Bush menjatuhkan Saddam Hussein dengan alasan kepemilikan senjata pemusnah massal.Tim inspeksi senjata kiriman Washington ini, dipimpin Charles A. Duelfer, menyatakan senjata kimia dan biologis Irak dihancurkan setelah Perang Teluk 1991. Pabrik rahasia senjata biologis Irak terakhir, sudah dihancurkan pada 1996. "Saddam Hussein mengakhiri program nuklir pada 1991 setelah Perang Teluk," kata Duelfer, kepada Komisi Angkatan Bersenjata Senat, Rabu (6/10).Tapi, katanya dalam laporan setebal 918 halaman, "Saddam ingin menciptakan kembali kemampuan itu--yang pada dasarnya sudah hancur pada 1991--setelah sanksi dilepas dan ekonomi Irak stabil."Duelfer mengatakan kemampuan Irak mengembangkan senjata-senjata itu sudah sangat melemah tahun lalu, saat invasi dilakukan. Hanya saja, kata Duelfer, Saddam, "Tetap memelihara kemampuan membuat senjata pemusnah massal saat sanksi dicabut." PBB sudah mengirim penyelidik senjata ke Irak yang dipimpin Hans Blix. Orang ini sudah meminta waktu beberapa bulan untuk memastikan bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal atau tidak, tapi Amerika keburu menyerang.Setelah perang dan senjata tidak juga ditemukan, Amerika membentuk tim sendiri, bernama Iraq Survey Group (ISG), untuk menemukan senjata pemusnah massal. Mereka bekerja 15 bulan hingga memberi kesimpulan minggu ini.Laporan resmi versi Inggris, dipimpin Lord Robin Butler pada Juli silam, menyatakan Blair mengirim tentara ke Irak dengan alasan sangat lemah.Tapi Bush tidak mau mengakui salah menyerang Irak meski mereka tidak memiliki senjata pemusnah massal seperti yang dituduhkan. "Kita mesti memandang tajam semua tempat yang mungkin menjadi tempat para teroris mendapat senjata," katanya kepada para pendukungnya dalam kampanye presiden. "Satu rezim sudah dirubuhkan. Kediktatoran Saddam Hussein."Sedang pendukung Bush paling setia, Perdana Menteri Tony Blair, menghindari memberi komentar jelas. Ia mengatakan, "Saya menyambut gembira laporan itu karena akan memperlihatkan pada kita betapa rumitnya situasi daripada yang dibayangkan orang-orang."Pendukung lain, Jepang, yang juga tidak bersedia mengakui salah. Perdana Menteri Junichiro Koizumi mengalihkan perhatian dengan mengatakan, "Sekarang saatnya masyarakat internasional bersatu membantu rekonstruksi di Irak."Bagi orang Irak sendiri, ini membuktikan Amerika salah. Suha Said, salah satu anggota parlemen sementara Irak, malah mengatakan, "Sudah saatnya Washington memberi kompensasi pada rakyat Irak karena semua kerusakan yang diakibatkan sejak 9 April 2003."nurkhoiri/afp/new york times

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Obligasi Ritel Indonesia Seri 016 Ditawarkan Secara Online

    Pemerintah meluncurkan seri pertama surat utang negara yang diperdagangkan secara daring, yaitu Obligasi Ritel Indonesia seri 016 atau ORI - 016.