Kalla: Kita Bisa Wujudkan Dunia Tanpa Perang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus, Mayor Jenderal Agus Sutomo ketika jumpa pers usai mengikuti Perayaan hari ulang tahun ke-61 Kopassus di Markas Besar Cijantung, Jakarta, (16/04). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus, Mayor Jenderal Agus Sutomo ketika jumpa pers usai mengikuti Perayaan hari ulang tahun ke-61 Kopassus di Markas Besar Cijantung, Jakarta, (16/04). Tempo/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Makassar - Ketua Umum Centrist Asia Pasific Democrats International (CAPDI) Muhammad Jusuf Kalla menegaskan bahwa kunci untuk perdamaian dunia adalah semua pihak berupaya menemukan rekonsiliasi dan resolusi konflik serta  antisipasi dampak perubahan iklim.

    "Kita harus percaya pada kemungkinan dunia tanpa perang," kata Kalla saat pembukaan Second General Assembly of The Chairman Centrist Asia Pasific Democrats International di Hotel Sahid Jaya, Makassar, Senin 20 Mei 2013.

    Kalla menegaskan bahwa tidak ada tindakan sendiri-sendiri yang dapat mengakhiri bencana perang atau kekejaman akibat intoleransi di dunia ini. "Semua orang di dunia harus bisa hidup lebih baik. Artinya, bebas dari penderitaan dan hidup dalam lingkungan yang berkelanjutan," katanya. Tujuan itu, kata mantan Wakil Presiden Indonesia ini, hanya bisa dicapai bersama dengan kerjasama erat.

    Pendirian Centrist Asia Pasific Democrats International, kata dia, adalah bagian dari upaya menciptakan perdamaian dunia itu. Anggota kaukus ini adalah negara-negara di kawasan Asia Pasifik dengan tingkat ekonomi, kematangan politik, dan akar budaya yang berbeda-beda. "Tapi CAPDI memungkinkan ada dialog politik antara negara, antar partai, masyarakat sipil, damn organisasi masyarakat," kata Kalla.

    Berbicara dalam forum yang sama, Perdana Menteri Kamboja Hun Sen mengingatkan agar konferensi CAPDI mampu merefleksikan kebutuhan semua negara anggotanya untuk bekerja sama guna memastikan perdamaian, stabilitas, pembangunan berkelanjutan dan harmoni di kawasan. "Kita harus bisa melawan berbagai ancaman yang mengganggu stabilitas negara kita, seperti konflik perbatasan, agama, terorisme, senjata nuklir, pemanasan global dan perubahan iklim, bencana alam serta perdagangan manusia," kata Hun Sen.

    Sementara mantan presiden Filipina Fidel Ramos mengatakan isu pemanasan global sekarang sudah semakin penting dan berpengaruh. Untuk itulah, dia menekankan pentingnya isu itu dibahas dan disepakati dalam forum CAPDI.

    Terakhir, mantan Perdana Menteri Nepal Madhav Kumar menegaskan bahwa ada korelasi positif antara kesejahteraan rakyat dan demokrasi. "Tingkat partisipasi sangat penting dalam demokrasi," kata Kumar.

    Konferensi CAPDI dibuka oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono. Hadir ratusan peserta dari 19 negara. Ada 25 anggota resmi CAPDI, 48 undangan khusus, 39 rombongan pemerintahan Kamboja, 12 delegasi Filipina, serta utusan dari negara non anggota seperti Inggris, Spanyol, dan Kanada.

    MUHAMMAD YUNUS


    Topik Terhangat:
    PKS Vs KPK
    | E-KTP | Vitalia Sesha  | Ahmad Fathanah | Perbudakan Buruh

    Berita Terpopuler:
    Selingkuh, Begini Fathanah Minta Maaf 

    Ilham Arief Serahkan Rp 7 Miliar ke Fathanah

    Cerita Sopir Fathanah Soal Paket Duit ke Luthfi

    Bisnis Labora Sitorus Dimulai dari Miras Cap Tikus

    Sefti Suruh Sopir Beri Bingkisan Duit ke Luthfi?


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.