Bawa Panci, Turis Arab Saudi Ditahan di Bandara AS

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Potongan logam dari bom yang meledak saat Boston Marathon. FBI menyatakan bom itu diletakkan dalam pressure cooker bersama paku dan bearing. AP Photo/FBI

    Potongan logam dari bom yang meledak saat Boston Marathon. FBI menyatakan bom itu diletakkan dalam pressure cooker bersama paku dan bearing. AP Photo/FBI

    TEMPO.CO, Detroit - Seorang pria Arab Saudi ditangkap di Detroit dan dituduh membuat pernyataan palsu tentang mengapa ia membawa panci bertekanan tinggi (pressure cooker). Ia terbang dari Amsterdam, menurut pengaduan pidana yang diajukan pada hari Senin.

    Hussain al-Khawahir, 33 tahun, tiba di bandara Detroit pada hari Sabtu dan ditanya tentang mengapa ia membawa panci selama penerbangannya. Nama pria itu dieja sebagai "al-Khawahir" dalam pengaduan pidana, sedang juru bicara di kantor jaksa AS sebelumnya mengatakan ia bernama al-Kwawahir.

    Dia awalnya mengatakan pressure cooker adalah kiriman untuk keponakannya, seorang mahasiswa di Toledo, Ohio. "Terdakwa kemudian mengubah ceritanya dan mengakui keponakannya telah membeli pressure cooker di Amerika sebelumnya dengan harga murah namun pecah setelah penggunaan pertama," kata dakwaan.

    Al-Khawahir juga didakwa dengan mengubah paspor karena halaman yang robek terlepas dari dokumen itu, kata dakwaan.

    Persidangan diselenggarakan  di pengadilan federal di Detroit tapi tidak ada tindakan yang diambil untuk memberikan jaksa lebih banyak waktu demi penyelidikan kasus al-Khawahir, juru bicara kantor kejaksaan mengatakan.

    Aparat keamanan AS menjadi ekstra sensitif terhadap jenis panci ini setelah bom y meledak di Boston pada tanggal 15 April. Bom yang dirakit dalam panci jenis ini menewaskan tiga orang dan melukai 264 orang.

    REUTERS | TRIP B



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.