Pesawat Militer Yaman Jatuh di Ibu Kota Sana'a  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri pertahanan Malaysia mengatakan, negara tersebut akan membeli 18 buah pesawat yang akan dilakukan pada 2015 nanti. Pilihan lain pengganti MiG-29s yang masih dipakai negeri jiran tersebut adalah Sukhoi Su-30MK yang juga produksi Rusia. REUTERS/Ilya Naymushin/Files

    Menteri pertahanan Malaysia mengatakan, negara tersebut akan membeli 18 buah pesawat yang akan dilakukan pada 2015 nanti. Pilihan lain pengganti MiG-29s yang masih dipakai negeri jiran tersebut adalah Sukhoi Su-30MK yang juga produksi Rusia. REUTERS/Ilya Naymushin/Files

    TEMPO.CO, Sana'a - Sebuah pesawat militer Yaman jatuh di daerah perumahan di ibu kota negara itu, Sana'a, Senin 13 Mei 2013. Insiden ini menewaskan pilot dan melukai sedikitnya 18 orang, kata pejabat pemerintah Yaman.

    Pemerintah tidak mengkonfirmasi jumlah korban tewas. Tidak jelas berapa banyak orang yang berada dalam pesawat itu.

    Pesawat jet tempur buatan Rusia, Sukhoi Su-22, sedang dalam misi latihan ketika jatuh di Sana'a selatan, kata laporan televisi pemerintah Yaman.

    Tiga rumah dan bangunan empat lantai terbakar setelah kecelakaan itu. Api juga tampak menyebar sebelum akhirnya bisa dipadamkan oleh petugas pemadam kebakaran.

    Kementerian Pertahanan Yaman mengatakan, kesalahan mekanis yang menjadi penyebab kecelakaan, bukan karena ditembak jatuh.

    Ini adalah kecelakaan udara mematikan ketiga di Sanaa setelah tahun lalu. Pada bulan Februari, sebuah jet tempur militer pada misi pelatihan jatuh di bagian perumahan Sanaa, menewaskan sedikitnya 10 orang dan melukai 21. Setidaknya salah satu rudal yang dibawa pesawat itu meledak dalam kecelakaan itu.

    November tahun lalu, sebuah pesawat kargo militer terbakar dan jatuh di kota Sana'a, dan menewaskan 10 orang.

    CNN | Abdul Manan 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?