Jejak Petualangan Hambali Versi Amerika Serikat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • AP/Charles Dharapak

    AP/Charles Dharapak

    TEMPO.CO, Jakarta - Riduan Isomuddin alias Hambali menjadi satu-satunya warga Indonesia yang masih ditahan di penjara super ketat Amerika Serikat di Guantanamo, Kuba. Nasibnya bersama sekitar 165 tahanan lainnya menjadi perhatian dunia setelah 100 tahanan mogok makan sejak dua bulan lalu. Presiden Amerika Barack Obama, Selasa 30 April 2013, akhirnya kembali menyampaikan janjinya untuk menutup penjara itu.

    Menurut Amerika, Hambali merupakan tahanan berisiko tinggi dan bernilai tinggi karena memiliki kedekatan dengan anggota senior al-Qaeda, memfasilitasi operasinya, dan dinilai bertanggung jawab atas beberapa pemboman di Asia Tenggara, termasuk bom Bali 12 Oktober 2002 yang menewaskan lebih dari 200 orang. Ia bertindak sebagai perencana operasional dalam beberapa serangan teroris. Ia memfasilitasinya dengan uang, personel, dan perlengkapan untuk al-Qaeda dan operasi Jemaah Islamiyah (JI).

    Di bawah ini adalah jejak petualangan Hambali, berdasarkan dokumen Tim Departemen Pertahanan Amerika Serikat yang menangani Guantanamo, yang dibocorkan kepada dunia oleh Wikileaks.

    * * *

    Riduan Isomuddin memiliki banyak nama alias. Ini di antaranya: Encep Nurjaman, Mizi, Azman, Alejandro Davidson Gonzalez, Hendrawan, Kahar, Muzabkar, Halim Osmann, Samsuri, Daniel Suarez Naveira. Lahir di Cianjur, 4 April 1964, Hambali lulus dari Sekolah Islam Allanah di Cianjur.

    Pada tahun 1985, ia pindah ke Malaysia untuk bekerja dan menikah dengan perempuan setempat. Ia direkrut di masjid di Malaysia oleh Abdullah Sungkar. Ia menghadiri sesi belajar Islam dan ceramah dengan Abdullah Sungkar dan organisasinya selama kurang lebih enam bulan. Ia menyebut istilah "dicuci otak" untuk menggambarkan pelajaran yang ia terima dan itu meyakinkan dia untuk berjihad. Pada akhir masa belajarnya, pemimpin kelompok memilihnya untuk berlatih di Afghanistan.

    Pada akhir 1986, ia melakukan perjalanan ke Peshawar, Pakistan. Dari sana, ia melakukan perjalanan ke Camp Sada di Afghanistan untuk mengikuti pelatihan. Ia di Afghanistan dan Pakistan selama kurang lebih satu setengah tahun, untuk mengikuti pelatihan dan bertempur dan kembali ke Malaysia pada tahun 1988.

    Setelah kembali dari Afghanistan, ia melakukan perjalanan ke seluruh Asia Tenggara dan mempromosikan ekstremisme. Sepanjang tahun 1990, ia mengembangkan hubungannya antara Jemaah Islamiyah dan kelompok Islam lainnya. Pada pertengahan tahun 1991, Hambali melakukan perjalanan dari Malaysia ke Filipina untuk melakukan dakwah. Selama perjalanannya, ia mengunjungi camp Abu Bakar Front Pembebasan Islam Moro (MILF). Pada pertengahan tahun 1997, ia dikirim oleh pimpinan Jemaah Islamiyah untuk bertemu dengan Rohingyan Solidaritas Organization (RSO) di Bangladesh untuk membahas kegiatan RSO.

    Pada akhir tahun 1997, ia sekali lagi melakukan perjalanan ke Filipina untuk bertemu dengan anggota MILF, untuk meninjau kamp Abu Bakar. Tahun berikutnya, pelatihan JI dimulai pada di sana.

    Selama tahun 1998, ia ditunjuk sebagai pemimpin kelompok daerah JI, yang mencakup Malaysia dan Singapura. Pada pertengahan 1998, Hambali melakukan perjalanan lagi ke Thailand untuk bertemu dengan seseorang yang terkait dengan Jamaat Salafi. Tujuan kunjungan ini adalah untuk memperkenalkan JI dengan organisasi tersebut.

    Pada awal 1999, tahanan melakukan perjalanan ke Kandahar, Afganistan, dan bertemu dengan Khalid Syaikh Muhammad, untuk membahas hubungan antara JI dan Al-Qaeda, serta pembentukan pelatihan bagi anggota JI di Afghanistan.

    Pada pertengahan-1999, tahanan bertemu lagi dengan kepemimpinan Jamaat Salafi, kali ini untuk membahas kegiatan militan di Thailand. Pada bulan September 1999, ia pergi ke Ambon, Indonesia, untuk mengumpulkan informasi untuk kepemimpinan JI mengenai konflik Islam-Kristen di Ambon, dan di mana JI kemudian dikirim koperasi. Pada awal tahun 2000, tahanan lagi perjalanan ke Kandahar. Ia mengunjungi anggota JI dari grup regionalnya yang melakukan pelatihan di sana dan juga bertemu dengan Abu Hafs al-Masri alias Muhammad Ati. Pada Desember 2000, ia berwisata bersama tahanan Faiz Bafana ke Manila. Mereka bertemu dengan pelaksana operasi JI, Fathur Rahman al-Ghozi, mengenai rencana penyerangan.

    Setelah pemboman malam natal 2000 di Indonesia, ia menjadi buronan dan melarikan diri ke Malaysia dengan istrinya. Ia tiba di Kandahar melalui Karachi, Pakistan. Selama bulan Agustus 2001, Hambali dan Yazid Sufaat pergi ke Karachi selama dua sampai tiga minggu untuk membeli peralatan laboratorium dan untuk mengunjungi saudaranya.

    Mereka kembali ke Kandahar setelah serangan 11 September 2001. Pada bulan November 2001, tahanan dan istrinya meninggalkan Kandahar menuju Karachi, Pakistan. Mereka tinggal di wisma Abu Ahmad al-Kuwaiti selama dua minggu. Pada Desember 2001, ia dan istrinya berangkat Karachi menuju Thailand, melalui Sri Lanka.

    Di Thailand, Hambali bertemu dengan anggota Jamaah Salafi. Ia kemudian melanjutkan perjalanan ke Malaysia, tinggal selama satu atau dua minggu, dan kemudian menuju Indonesia untuk mendapatkan dokumen baru. Pada Januari 2002, ia telah bergabung kembali dengan istrinya di Thailand.

    Pada bulan September 2002, ia melakukan perjalanan ke Kamboja untuk empat sampai lima bulan untuk mendapatkan dokumen palsu. Pada bulan Februari atau Maret 2003, kembali ke Thailand dari Kamboja. Hambali ditangkap pada 14 Agustus 2003 di Thailand, melalui operasi gabungan AS-Thailand. Ia dikirim ke Guantanamo pada 4 September 2006 dan masih di sana hingga saat ini.

    Wikileaks | Abdul Manan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Calon Menteri yang Disodorkan Partai dan Ormas, Ada Nama Prabowo

    Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa sebanyak 45 persen jejeran kursi calon menteri bakal diisi kader partai.