Tambang Emas di Sudan Runtuh, 60 Pekerja Tewas

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Sudan yang dilanda perang saudara memilih untuk mengambil air berlumpur daripada harus mengantri selama 12 jam di sebuah pompa air di kamp pengungsi Sudan Selatan, 9 Desember 2011 silam. REUTERS/Hereward Holland

    Warga Sudan yang dilanda perang saudara memilih untuk mengambil air berlumpur daripada harus mengantri selama 12 jam di sebuah pompa air di kamp pengungsi Sudan Selatan, 9 Desember 2011 silam. REUTERS/Hereward Holland

    TEMPO.CO, Khartoum - Lebih dari 60 pekerja tambang tewas di kawasan Darfur, Sudan, ketika tambang emas tempat mereka bekerja runtuh. Demikian keterangan juru bicara kepolisian, Ahmed Amr, Kamis, 2 Mei 2013.

    Salah seorang anggota parlemen dari daerah pemilihan setempat mengatakan, tambang emas tersebut runtuh pada Senin, 29 April 2013. Menurut saksi mata melalui telepon kepada Reuters, petugas gagal menyelamatkan pekerja.

    Tambang emas yang terletak di Bukit Amir, Darfur Utara, belum lama ini dibuka kembali oleh pemerintah setelah ditutup pada Januari 2013 lalu menyusul perang tanding antara dua suku guna memperebutkan lahan tersebut.  

    Pemerintah Sudan menjelaskan, setengah juta pekerja tambang dari berbagai wilayah negara menambatkan hidupnya dari sektor ini. Tambang emas tersebut diperkirakan menyumbangkan pendapatkan sekitar US$2,5 miliar (Rp 24,33 triliun) dari hasil ekspor tahun lalu.

    Hukum dan ketertiban tidak berjalan di sebagian besar Darfur, daerah kering di barat Sudan, sejak pemberontak terutama non-Arab mengangkat senjata pada 2003 terhadap pemerintah.

    Meskipun PBB telah mengirimkan pasukan perdamaian, UNAMID, pertempuran antara angkatan bersenjata Sudan menghadapi pemberontak terus berkecamuk, termasuk berperang menumpas para bandit dan suku.

    REUTERS | AL JAZEERA | CHOIRUL


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.