Ibu Pelaku Bom Boston Yakin Anaknya Tak Terlibat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Zubaidat Tsarnaev. guardian.co.uk

    Zubaidat Tsarnaev. guardian.co.uk

    TEMPO.CO, Boston - Zubeidat Tsarnaev, ibu Tamerlan dan Dzhokhar Tsarnaev, sangat yakin kedua putranya tidak terlibat dalam ledakan bom Boston Marathon pada 15 April 2013.

    Tamerlan Tsarnaev, 26 tahun, tewas di rumah sakit setelah diberondong peluru tajam petugas keamanan Boston dalam drama adu tembak di depan kampus MIT (Massachusetts International Technology) pada Jumat malam waktu setempat, 19 April 2013.

    Sementara Dzhokhar, 19 tahun, kini terbaring lemas di rumah sakit akibat tenggorokannya disambar timah panas petugas ketika bersembunyi di dalam perahu di sebuah rumah di Watertown, Massachusets.

    Ketika ledakan bom Boston yang menewaskan tiga orang dan melukai lebih dari 180 lainnya terjadi, Biro Penyelidik Federal (FBI) Amerika Serikat langsung meningkatkan buruannya terhadap Tsarnaeva bersaudara.

    Pria, yang menurut para ahli melakukan gerakan radikalisme sendirian itu, terekam jejaknya saat masuk ke Amerika Serikat pada 2009 melalui sidik jarinya. Dari sidik jari yang diambil ketika dia sudah jadi mayat inilah FBI bergerak.

    Selain itu, FBI juga memburu adiknya, Dzhokhar, yang didakwa turut ambil bagian dalam ledakan bom Boston.  Sampai sejauh ini belum diketahui dengan jelas, motif apa di balik ledakan bom Boston. Namun dalam pengakuannya kepada penyidik federal, Dzhokhar mengaku bahwa serangan bom tersebut demi pembelaannya pada perang di Afganistan dan Irak.

    GUARDIAN | CHOIRUL

    Berita Terpopuler Lainnya
    Susno Keluar dari Markas Polda Tengah Malam
     
    Eksekusi Susno Semalam, Kajati 'Lempar Handuk' 
    Rumah Susno Duadji di Bandung Dikepung 
    Djoko Kirmanto Sindir Anggota DPR Tak Paham Rusun
    Tokoh-tokoh Muda yang Masuk 100 Tokoh TIME


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.