Soal Rudal Eropa, NATO-Russia Belum Raih Kemajuan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Rudal Patriot milik Amerika Serikat di Polandia Utara (24/5). AP Photo/Marek Lis

    Rudal Patriot milik Amerika Serikat di Polandia Utara (24/5). AP Photo/Marek Lis

    TEMPO.CO, Brussel - Sekretaris Jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) Anders Fogh Rasmussen mengatakan bahwa pertemuan terakhir NATO-Rusia sebatas mempertahankan dialog aktif, tapi tidak membuat kemajuan yang signifikan dalam isu kunci pertahanan rudal Eropa.

    Rasmussen mengatakan soal ini di sela pertemuan para menteri luar negeri NATO di Brussels, Rabu 23 April 2013. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov juga bergabung dalam pertemuan ini.

    Lavrov mengatakan, Moskow sedang mempelajari perubahan pada program pertahanan rudal AS. Tetapi mereka masih ingin mendapatkan jaminan bahwa sistem itu tidak akan digunakan untuk melawan Rusia.

    Amerika Serikat dan sekutunya sebelumnya menyatakan, perisai rudal Eropa, yang terdiri dari rudal pencegat dan sistem radar dan akan selesai sekitar tahun 2020, tidak dimaksudkan untuk menembak jatuh rudal Russia. Amerika dan NATO, yang bekerja sama dalam program itu, menolak untuk memberikan jaminan tersebut.

    Amerika dan sekutunya mengatakan, perisai rudal itu dirancang untuk melindungi mereka dari potensi ancaman dari Iran dan tidak menimbulkan ancaman bagi Rusia.

    Dalam pertemuan di Brussel itu, para menteri NATO juga membahas situasi di Suriah. Rasmussen mengatakan, aliansi itu berkomitmen untuk melindungi semua anggotanya, termasuk Turki.

    Rasmussen juga menyampaikan keprihatinan NATO tentang kemungkinan penggunaan senjata kimia di Suriah. Namun Lavrov mengatakan, laporan penggunaan senjata kimia telah digunakan di Suriah harus diperiksa secara cermat. Sebab, tuduhan serupa sebelumnya terbukti salah.

    Radio Free Europe | Reuters | Abdul Manan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.