21 Orang Tewas Dalam Kekerasan di Irak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah tentara Irak berkumpul di dekat lokasi terjadinya serangan bom di distrik Alawi, Baghdad, Irak, Kamis (14/3). REUTERS/Saad Shalash

    Sejumlah tentara Irak berkumpul di dekat lokasi terjadinya serangan bom di distrik Alawi, Baghdad, Irak, Kamis (14/3). REUTERS/Saad Shalash

    TEMPO.CO, Bagdad - Gelombang kekerasan menghantam Irak melibatkan pasukan keamanan dan demonstran menyebabkan sedikitnya 21 orang tewas. Demikian keterangan pejabat setempat kepada media, Selasa, 23 April 2013.

    Kerusuhan tersebut bermula dari serbuan pasukan keamanan Irak, Selasa, terhadap basis kaum Sunni di dekat Kota Hawija, tak jauh dari Kirkuk. Penyerbuan ini memicu saling serang dengan senjata api antara pihak militer dan mereka.

    Dalam aksi tersebut, kata pihak kepolisian dan petugas medis, sejumlah pria bersenjata menggunakan mortir dan bom untuk menyerang petugas menyebabkan sedikitnya 21 orang tewas saat mereka meninggalkan masjid kaum Sunni di Bagdad.

    Menteri Pertahanan dalam pernyataan di dekat Kirkuk mengatakan pertempuran pecah ketika pasukan membuka tembakan setelah menerima serangan dari sejumlah pria bersenjata dari sebuah lapangan di Hawija.

    Perkelahian berdarah hingga menelan korban jiwa di Irak tampak gencar sejak ribuan kaum Sunni mulai melakukan unjuk rasa pada Desember 2012 untuk menuntut pemarginalan posisi mereka di lingkup pemerintahah Perdana Menteri Nouri al-Maliki dari golongan Syiah.

    AL JAZEERA | CHOIRUL

    Topik terhangat:
    Caleg | Ujian Nasional | Bom Boston | Lion Air Jatuh | Preman Yogya

    Berita lainnya:
    Dahlan Tertarik Bikin Ladang Ganja
    VIDEO Unik FBI Buka Pintu Pagar Kasus Bom Boston
    Diduga Mark Up, Menteri Nuh: Ketemu Hatta, Beres
    Jokowi: MRT seperti Mencabut Kumis Harimau
    Bayern Hancurkan Barcelona 4-0


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.