Pengakuan Bibi Terduga Bom Boston

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelaku bom Boston, Dzhokhar Tsarnaev. (AP Photo/vk.com)

    Pelaku bom Boston, Dzhokhar Tsarnaev. (AP Photo/vk.com)

    TEMPO.CO, Boston -  Maret Tsarnaeva, bibi dari dua tersangka pemboman Boston, Tamerlan Tsarnaev (26) dan Dzhokhar (19) mengatakan dia tidak percaya keponakannya terlibat dalam kejahatan itu. Ia mengatakan FBI tidak memiliki bukti selain gambar dari dua pemuda berjalan di jalan dekat garis finish.

    Tsarnaeva, yang tinggal di Toronto, mengatakan kepada CBC News melalui telepon bahwa ia belum dihubungi Anzor, kakaknya (46), yang merupakan ayah dari dua bersaudara itu.

    Dzhokhar ditangkap Jumat malam setelah perburuan polisi besar-besaran, sementara Tamerlan tewas setelah sebelumnya melakukan tembak-menembak dengan polisi.

    "Keponakan saya tidak ada sangkut-pautnya dengan kejahatan mengerikan di Boston itu," katanya. "Saya tahu dua keponakan saya ini anak yang cerdas dan baik. Mereka tidak memiliki motif untuk itu. Mereka tidak memiliki ide untuk melakukan tindakan keji itu."

    Tsarnaeva mengatakan ia tinggal di Kanada sejak tahun 1996 dan pernah belajar di Universitas Manitoba, memperoleh gelar sarjana hukum di Kanada. Dia mengatakan dia tidak melihat keponakannya selama lima atau enam tahun.

    Namun, dia mengatakan dia berbicara kepada keponakan tertua, Tamerlan 26 tahun, dua tahun lalu ketika putrinya lahir, dan kemudian setahun kemudian.

    Dia mengatakan Tamerlan menikah dengan seorang wanita yang ia digambarkan sebagai seorang Kristen, dan bahwa dia tinggal di rumah mengurus putrinya sementara istrinya bekerja. Sekitar dua tahun lalu, katanya, ia menjadi lebih tertarik pada Islam, dan mulai menjalankan shalat lima kali sehari.

    Tsarnaeva menyatakan dia sudah berbicara dengan seseorang di FBI pada Jumat pagi untuk memberitahu mereka bahwa dia yakin tidak ada bukti yang menunjuk dua keponakannya sebagai pelaku pemboman. Tapi ia mengaku belum dihubungi aparat sejak saat itu.

    Ia menyatakan, karena koneksi Chechnya-nya, katanya, keponakannya yang menjadi target. Dia menyatakan bahwa kedua keponakannya hanya menghabiskan satu tahun di Chechnya ketika keluarga mencoba untuk kembali. "Dzhokhar masih balita pada saat itu," katanya. Setelah perang pecah, mereka pergi lagi dan akhirnya memilih Amerika Serikat sebagai tempat tinggal mereka pada tahun 2002.

    CBC.CA | TRIP B



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Wajah Anggota Kabinet Indonesia Maju yang Disusun Jokowi - Ma'ruf

    Presiden Joko Widodo mengumumkan para pembantunya. Jokowi menyebut kabinet yang dibentuknya dengan nama Kabinet Indonesia Maju.