TV Taiwan Salah Beritakan Ratu Inggris yang Wafat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Margaret Thatcher.

    Margaret Thatcher.

    TEMPO.CO, London - Ketika mantan perdana menteri wanita pertama Inggris, Margareth Thatcher, wafat, penyiar televisi di seluruh dunia bergegas menyiarkan berita pertama kali. Tak sedikit, hanya demi asal cepat, mereka menayangkan berita yang sedikit ngawur.

    Sebuah stasiun berita Taiwan, misalnya, menayangkan cuplikan gambar Ratu Elizabeth II saat melaporkan kematian wanita berjulukan Wanita Besi ini.

    Sementara sang penyiar menyebut Thatcher, gambar yang ditayangkan adalah Ratu Elizabeth yang tengah menyalami rakyatnya. Hampir selama beberapa menit tayangan, gambar Ratu Elizabeth dalam berbagai aktivitasnya ditayangkan.

    Stasiun itu juga menyebut Thatcher meninggal di usia 88 tahun. Tidak diketahui mengapa stasiun menyebut usia itu. Bisa jadi, karena kebiasaan Cina menghitung usia seseorang dimulai dengan satu ketika dia lahir.

    Stasiun televisi itu meminta maaf tadi malam setelah pemirsa mengkritik mereka karena gagal untuk membedakan antara dua wanita Inggris yang terkenal itu.

    Sementara itu, di Thailland, stasiun televisi Channel 5 membuat kesalahan yang sama, menggunakan foto dari aktris Meryl Streep ketika mereka melaporkan berita kematian Thatcher. Selama hampir dua menit, saluran itu menampilkan biografi Thatcher dengan gambar-gambar Streep yang memerankan wanita yang memulai karier politiknya di tahun 1950-an itu dalam film Iron Lady.

    Kontan, publik Thailand mencibir. "Kami akan meningkatkan kinerja kami dan bekerja lebih hati-hati dan sangat menyesal," tulis stasiun itu dalam akun Facebook-nya.

    Thatcher meninggal dalam usia 87 tahun setelah menderita stroke. Pemakamannya akan dilangsungkan Rabu dan dihadiri Ratu Elizabeth.

    MAIL ONLINE | TRIP B


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.