Inggris Minta Indonesia Tak Hukum Mati Sandiford  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Inggris terdakwa kasus penyelundupan kokain, Lindsay June Sandiford mendengarkan putusan hakim dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, (22/1). ANTARA/Nyoman Budhiana

    Warga Inggris terdakwa kasus penyelundupan kokain, Lindsay June Sandiford mendengarkan putusan hakim dalam sidang di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, (22/1). ANTARA/Nyoman Budhiana

    TEMPO.CO, London - Menteri Luar Negeri Inggris William Hague mengaku telah mendesak Indonesia untuk membebaskan seorang nenek yang menyelundupkan narkoba, Lindsay Sandiford, dari hukuman mati. Pengadilan Tinggi Denpasar bulan ini dijadwalkan memberi putusan banding atas wanita asal Cheltenham itu.

    Sandiford, 56 tahun, tertangkap menyelundupkan kokain senilai lebih dari US$ 2,4 juta di dalam lapisan koper dari Bangkok ke Bali tahun lalu. Dia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan negeri, Januari tahun ini.

    Dalam suratnya melalui Kementerian Luar Negeri, Hague menyatakan, hukuman mati bagi Sandiford adalah 'tidak beralasan karena merupakan hukuman yang berlebihan'. "Pemerintah meminta pengadilan mempertimbangkan pelanggaran hak-hak dasar Sandiford dan memutuskan bahwa dalam keadaan ini hukuman mati tidak akan sesuai," demikian bunyi surat itu.

    Tuduhan penganiayaan terhadap Sandiford selama periode awal dalam tahanan juga telah diajukan. Termasuk di dalamnya adalah ancaman dengan pistol dan kurang tidur.

    "Pemerintah Inggris juga memiliki keprihatinan serius atas ketiadaan dan penundaan pemberitahuan yang berkepanjangan kepada konsuler. Ini semua lebih memprihatinkan mengingat tidak adanya perwakilan hukum dan penerjemah selama masa penahanan," isi surat Hague.

    Dokumen itu--dikenal sebagai Amicus Curiae--menyatakan, hukuman mati Sandiford itu harus dikurangi menjadi hukuman penjara. Surat ini juga menyiratkan bahwa eksekusinya akan memiliki dampak diplomatik.

    "Sandiford bekerja sama dengan pihak berwenang dengan maksud untuk menahan orang lain yang terlibat dalam perdagangan narkoba. Pengadilan tinggi harus mempertimbangkan kerja sama ini, terutama mengingat bahwa orang lain yang terlibat kini telah dihukum," demikian bunyi surat itu.

    Briton Julian Ponder, 43 tahun, diduga sebagai dalang penyelundupan, hanya dijatuhi hukuman enam tahun penjara. Rekannya, Rachel Dougall, 38 tahun, hanya diganjar setahun karena tak melaporkan kejahatan. Sedangkan Paul Beales dipenjarakan selama empat tahun karena memiliki narkoba.

    Sandiford mengklaim dia setuju untuk membawa kokain karena ancaman anaknya akan dibunuh jika menolak. Ponder, Beale, dan Dougall menyiapkan penyelundupannya dari Bangkok ke Bali.

    Sandiford akan dieksekusi oleh regu tembak jika hukuman mati diputuskan. Masih ada satu pintu keadilan, yaitu Mahkamah Agung di Jakarta.

    Juru bicara Kementerian Luar Negeri Inggris, Jonathan Farr, mengatakan, surat itu tidak ditandatangani secara pribadi oleh Hague. "Tapi oleh perwakilan dari kantor luar negeri atas nama pemerintah Inggris," katanya.

    MAIL ONLINE | TRIP B

    Berita Terpopuler:
    Beredar, Video Tari Bugil Pelajar di Bima

    Mengintip Restoran Narkoba di Kampung Ambon

    Polisi Bantah Mengendus Penyerang LP dari HP

    Pangdam Diponegoro Serahkan Jabatan Besok

    Pilkada Palembang, Romi - Harno Unggul Sementara

    SBY Keseleo Lidah, Mencoreng Jadi Menggoreng


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kontroversi Nike ZoomX Vaporfly yang Membantu Memecahkan Rekor

    Sejumlah atlet mengadukan Nike ZoomX Vaporfly kepada IAAF karena dianggap memberikan bantuan tak wajar kepada atlet marathon.