Rencana Pelesir Obama Dihadang Badai Pasir

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Amerika Serikat Barack Obama. AP/Susan Walsh

    Presiden Amerika Serikat Barack Obama. AP/Susan Walsh

    TEMPO.CO, PETRA--Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengakhiri kunjungannya ke Timur Tengah, sebagai wisatawan di salah satu lokasi terindah dunia, kota Petra, di Yordania, Sabtu 23 Maret 2013.

    Obama menumpang helikopter dari ibu kota Amman ke wilayah selatan Yordania, tempat Petra berada. Ia kemudian mengendarai motor menuju Petra dan memulai tur berjalan kaki untuk menyaksikan keindahan kota tersebut.

    Sebelumnya kunjungan Obama ke kota kuno itu sempat dibatalkan karena badai pasir. Sehari sebelumnya, badai pasir menghalangi rencana Obama untuk mengunjungi kotayang disebut tersebut. Tetapi, pada Sabtu ini cuaca bersahabat dan memungkinkan Obama mengunjungi kota bersejarah itu.

    Petra adalah kota kuno yang diukir dari batu merah oleh suku Nabataens dari 2.000 tahun lalu. Kota di Jazirah Arab itu sempat menjadi kota yang amat penting dalam jalur perdagangan sutra, rempah-rempah dan perdagangan antara Cina dan wilayah selatan Arab seperti Mesir, Suriah, hingga ke Yunani dan Roma.

    Wisata ke Petra mengakhiri kunjungan kenegaraan Obama selama empat hari di Timur Tengah. Sebelum bertolak ke Yordania, Obama sempat melakukan kunjungan tiga hari di Israel dan beberapa jam di Tepi Barat. Meski sempat dinilai banyak pihak sebagai kunjungan sia-sia, Obama secara mengejutkan berhasil menjadi mediator perdamaian Israel-Turki.

    Adapun dalam kunjungan di Yordania, Obama menyempatkan diri mengkritik Presiden Suriah Bashar al-Assad. Namun presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat itu tidak menawarkan bantuan militer untuk mengakhiri perang saudara yang telah menewaskan sedikitnya 70 ribu penduduk Suriah.

    L REUTERS | AP | SITA PLANASARI AQUADINI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.